Selasa, 01 Mei 2012

Answer this question


Aku tak pernah tau kemana arah hidupku melangkah.
Aku belum mengetahui hidupkudi dunia ini untuk apa.
Kemana melangkah dan apa yang harus dilakukan untuk hidup ini.
Kemana? Kemana langkah kita di hidup ini? Entahlah…
Kita jalani saja hidup ini sebagaimana mestinya.

Pernah tidak kalian mengalami yang namanya mimpi buruk dalam hidup kalian? Tentu! Mimpi buruk itu adalah kita tidak bisa menjadi orang lain yang lebih sempurna dimata kita. Apabila kita memiliki wajah yang jelek, kita akan merasa iri hati pada orang yang wajahnya lebih tampan atau lebih cantik dari kita. Tapi, inilah yang dinamakan kehidupan. Berpasangan. Jadi, buat apa itu semua dijadikan mimpi buruk? Bersyukurlah karena kita masih memiliki mata yang bisa melihat, mulut yang mampu berucap, telinga yang bisa mendengar dengan baik, tangan kiri dan kanan yang masih bisa digunakan dan dua kaki yang masih sanggup untuk berjalan.
Lantas, bagaimana dengan mereka yang buta? Tuli? Bisu? Dan bagaimana dengan mereka yang lumpuh? Apa kalian pernah memikirkan nasib mereka yang kurang beruntung dari kita? Coba renungkan semua ini! Jika kalian telah menemukan jawaban dari arti kehidupan, silahkan berikan komentar kalian ke wall facebook Wina Laksmita II.
Bagi jawaban yang bagus dan menarik, akan masuk ke dalam cerpen/cerbung yang akan di buat oleh penulis.
Jadi, dijawab pertanyaannya. Tolong! Bantu saya untuk menjawab semua pertanyaan ini agar saya berhenti mengeluh dengan hidup yang saya jalani. Dan agar saya bisa menemukan inspirasi kehidupan dari sedikit tulisan indah kalian. Aku sayang kalian semua :)

-Wina Laksmita-

Berawal Dari MOS-Part #62 B


Part 62 B


******

“Hey… siapa ya yang berani ngaku-ngaku jadi gue?”

“ALVIN!” Sivia kaget. “Lo masih hidup? Kok bisa?”

Alvin tersenyum tipis dengan wajah pucatnya sambil merangkul Sivia. “Elo yang udah buat gue kembali lagi. Dan gue nggak mau elo direbut sama si Vino kamseupay!”

Cakka dengan semangat-nya bangkit lalu menepuk-nepuk pipi Alv in. “Lo serius? Lo Alvin Jonathan Sindunata? Terus dia siapa? Kenapa dia ngaku-ngaku sebagai elo, Vin?” tanya Cakka sambil menunjuk Vino dengan tangan kirinya.

“Gue Vino! Saudara kembarnya Alvin dan pacar barunya Sivia.” Jawab Vino sambil menatap Cakka sinis.

“Hah? Kamu menghianati cinta kita, Vi?” tanya Alvin tak percaya. Alvin kembali bangkit untuk Sivia. Namun, mengapa Sivia tega melakukan ini semua kepadanya? Apa salah Alvin terhadap Sivia?

Vino menarik Sivia dalam pelukannya. Ia menatap tajam Alvin. “Lo udah mati! Sivia udah jadi milik gue sekarangg. Sivia lebih suka milik gue daripada milik elo!”

Semuanya tersentak. Terbongkar sudah semua rahasia Sivia yang terselubung selama ini. Vino membongkar semua rahasia Sivia. Tamat sudah riwayat Sivia kali ini. Sivia terdiam membisu dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kaata pun. Ia sangat malu.

“Lo suka apa dari Vino, Vi? Behelnya? Gila! Bagusan gigi Alvin kemana-mana kali, Vi!” ucap Debo pelan sambil tertawa geli.

“Gue suka…”

“Nggak usah lo lanjutin kata-kata lo yang cuma bisa buat gue sakit! Lo ternyata cuma nyari kayak gitu aja ya! Kamseupay dasar! Pantesan aja waktu itu lo nggak nolak waktu gue ajakin. Ternyata… lo cewek yang nafsunya gede!” bentak Alvin dengan suara tinggi. Sungguh! Alvin baru mengetahui bagaimana Sivia yang sesungguhnya. Sakit hati yang kini dirasakan Alvin.

“Hahaha. Sivia juga bilang kalo dia nggak cinta sama Alvin Sindunata! Tapi dia cinta sama Vino Sindunata. Sivia sukanya sama gue! Gue tetep akan jadi yang paling best of the best diantara semuanya.”

“Lo brengsek! Lo sengaja kan pengen ngehancurin hubungan gue sama Alvin? Mau lo apa sih, Vino?” Sivia geram. Ia mendorong Vino dengan sedikit kasar. Sorot kebencian terlihat jelas di mata Sivia. Ia sangat membenci Vino saat ini. Seandainya Sivia tahu bahwa Vino hanya ingin memanfaatkan keadaan. Pasti Sivia akan berpikir dua kali untuk menerima Vino sebagai kekasihnya. Disinilah letak kecerobohan Sivia. Ia begitu gampangnya terhipnotis oleh cowok seperti Alvin dan Vino.

“Lo ngapain Sivia? Lo tau nggak gue udah anggap Sivia sebagai adik gue sendiri!” Rio kini berdiri tepat dihadapan Vino. Rio memang sangat menyayangi Sivia. Ia sangat tidak suka dengan cowok yang seenaknya menyakiti cewek seperti Sivia.

“Lo nggak usah sok jadi pahlawan! Sivia milik gue sekarang. Nggak ada satu orang pun yang boleh nyentuh Sivia!” bentak Vino. Pertarungan sengit mulai terjadi. Cakka dan Debo menahan gerak Vino. Alvin berdiri tepat di hadapan Vino. Ia menatap tajam cowok dihadapannya itu. Tangannya mengepal dan siap untuk melayangkan pukulannya.

“BANGSAT! Putusin cewek gue sekarang!” bentak Alvin.

Bug! Satu pukulan mendarat di perut Vino. Emosi Alvin memuncak. Ia tidak suuka apabila Sivia direbut oleh orang lain. Alvin saja dari dulu berusaha kuat untuk mempertahankan hubungannya dengan Svia. Vino dengan gampangnya ingin merebut Sivia darinya.

“Alvin! Gue yang akan mutusin Vino. Lo nggak usah celakain Vino lagi.” Sivia melerai pertengkaran yang terjadi. Ia hanya tidak mau pertengkaran ini berakibat fatal lagi bagi Alvin maupun Vino. Sivia hanya ingin semua ini berakhir. Sivia tidak ingin mengenal Alvin dan Vino lagi ketika semua permasalahan ini telah berakhir.

“Kalian jangan bikin rusuh disini. Ini restoran dan bukan tempat buat berkelahi.” Direktur pemilik restoren itu menjauhkan Alvin dari Vino. Pemilik resto itu tidak mau jika nama restonya tercoreng hanya karena ulah Alvin dan kawan-kawannya.

“Udah! Kita cabut aja dari sini, Alvin. Nggak enak bikin rusuh resto orang.” bisik Vino pada Alvin. Rio pun beranjak dan mengisyaratkan yang lain untuk keluar dari resto.
Namun, kerepotan yang mesti diterima anak-anak SNG dan FMIF serta Vino. Di resto tersebut, tiba-tiba saja Cakka dan Debo pingsan karena baru menyadari bahwa Alvin ternyata ada dua.

Alvin berkacak pinggang. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Cakka dan Debo. Beberapa menit kemudian, Cakka dan Debo tersadar dari pingsannya. Mereka kembali terkejut ketika melihat Alvin.

“Kok Alvin bisa ada dua?” tanya Debo dan Cakka serempak.

“Kita berdua memang serupa. Tapi tak sama! Gue lebih the best dari Alvin!” jawab Vino sambil memperlihatkan deretan giginya yang berkawat. Vino merangkul Sivia kembali. “Dan Sivia adalah pacar yang paling gue sayang.”

Alvin mengatupkan rahangnya. Ia bungkam dan tak percaya dengan semua ini. Vino sayang Sivia? Berarti… sudah lama Vino begitu mengagumi sosok Sivia. Alvin memang dari dulu selalu lebih unggul daripada Vino. Tapi, kali ini Alvin sungguh tak percaya bahwa Sivia dijadikan korban persaingannya oleh Vino.

“Nggak mungkin! Gue kenal banget Sivia. Sivia cintanya Cuma sama Alvin. Dia nggak mungkin tega nyakitin perasaaan Alvin.” Agni mulai angkat bicara. Ia memang sangat mengenal Sivia. Biasanya Sivia selalu bercerita tentang Alvin kepadanya. Bgi Agni, Siviz tidak mungkin tega menyakiti perasaan Alvin.

“Gue nggak pernah cinta sama Alvin! Gue cuma suka sama yang ada di dalam diri Alvin. Jadi tolong! Jangan larang-larang gue buat berhubungan sama Vino. Alvin cuma masa lalu gue! Dan lo semua, kamseupay eeewww! Diem aja deh lo semua. Nggak usah ikut campur urusan gue.”

“Sivia! Gue nggak nyangka ternyata pikiran elo seperti ini. Dari awal gue emang nggak pernah niat buat deketin elo. Gue dari awal udah naksir berat sama Shilla. Bukan sama elo! Lo nggak usa ke-geer’an deh jadi orang.” bentak Alvin sambil mendorong Sivia kasar.

Vino dengan cepat langsung menangkap Sivia agar tidak jatuh. Ia mendekap Sivia dengan erat dan penuh rasa sayang. Sivia terisak dalam pelukan Vino. Sivia tidak menduga bahwa kejadiannya akan seperti ini.

“Lo kasar banget sih! Lo urusannya sama gue. Bukan sama cewek gue.” Vino menatap Alvin. Ia sangat membenci saudara kembarnya itu. Ternyata begini saudara kembarnya. Sama saja sifatnya dengan Vino. Suka bertindak kasar pada cewek.

“STOP! Guys, ini resto orang. Jangan buat kerusuhan disini.” lerai Acha. Acha yang sedaritadi diam di samping Deva. Akhirnya angkat bicara.

“ELO!” geram Alvin. Tangannya mengepal. Ia perlahan mendekati Acha. Namun, Deva melindungi Acha. Alvin melayangkan tangannya dan akhirnya terdiam karena melihat Deva yang berada dihadapannya.

“Lo boleh pukul gue sepuasnya sampai gue mati! Asalkan jangan pernah lo bikin Acha terluka. Karena elo akan berhadapan sama gue!” bentak Deva.

Alvin terdiam. Ia menurunkan tangannya. Alvin spontan memeluk Deva. Tak mengira bahwa emosinya nyaris mencelakai sahabatnya sendiri.

“Ugh! So sweet.”

“Gue tau lo kecewa sama sikap Sivia yang seenaknya kayak gini. Tapi, tolong jangan lampiasin emosi lo ke semuanya, Vin.” Ucap Deva pelan. Ia membalas pelukan Alvin sambil menepuk punggungnya perlahan.

“Maafin gue ya, Dev. Gue janji nggak akan kayak gini lagi.”

“Siv, kita cabut dari sini! Nggak penting ngurusin cowok kasar kayak Alvin.” ajak Vino sambil menarik tangan Sivia.

Langkah Vino tiba-tiba terhenti. Alvin mengeluarkan pisau kecil yang berada di saku celananya. Ia mendekap Sivia sambil mengarahkan pisau itu ke pipi Sivia. Semuanya terdiam. Mereka berpikir bahwa Alvin benar-benar sudah gila saat ini. Semua dilar dugaan yang ia lakukan.

“Jangan ada yang keluar dari restoran ini kalo Sivia mau selamat!”

Vino menyipitkan matanya. Ia mundur beberapa langkah. Vino tak menyangka bahwa saudara kembarnya itu bertindak seperti ini hanya karena cewek seperti Sivia.

“Bunuh aja gue kalo emang itu buat elo puas! Gue sayang banget sama lo, Alvin!” Sivia angkat bicara dengan nada sedikit bergetar. Ia takut kalau sampai Alvin benar-benar nekat mencelakai dirinya.

“Alvin! Elo jangan gila. Gue sayang sama Sivia. Lo harus bunuh gue dulu sebelum elo ngebunuh Sivia.” Ucap Rio sambil berjalan mendekati Alvin.

“Gue juga! Elo harus bunuh gue sama Rio sebelum elo ngebunuh Sivia.” Debo ikut berdiri di dekat Rio. Ify kaget dan tak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Rio dan Debo terhadap Sivia. Ini benar-benar diluar dugaan Ify. Apalagi kekasihnya sendiri membela  Sivia. Apa yang ada dipikiran Debo sehingga ia tega melakukan semua ini? Sungguh sangat aneh sekali.

“Rio! Debo! Lo berdua janan gila dong. Gue cuma pengen gertak Vino doang. Lo jangan serius nanggepinnya. Gue juga sayang sama Sivia. Mana mungkin gue tega nyakitin cewek yang gue sayang.”

Sivia tersenyum. Ia menjatuhkan pisau yang ada ditangan Alvin. Sivia memeluk tubuh Alvin dengan eratnya. Ia tak percaya dengan pengakuan yang terucap dari mulut Alvin. Air matanya perlahan-lahan menetes membasahi baju Alvin. “Gue sayang banget sama el~”

BRUUUKKKK~

Sivia jatuh dipelukan Alvin. Pisau yang sebelumnya terjatuh kini tertancap di punggung Sivia. Vino menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata tangannya sendiri mencelakai Sivia. Padahal, Vino inginnya mencelakai Alvin. Bukan Sivia.

“Via… Siviaaaaaaaaaaa!” Alvin berteriak histeris. Ia langsung mengangkat tubuh Sivia dan mencabut pisau yang tertancap. Alvin langsung pergi keluar resto dan memanggil taksi untuk segera menuju rumah sakit.

Bugghh!
Satu pukulan mendarat di pipi kanan Vino. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Debo melayangkan pukulan keduanya. Namun, tangannya ditahan Deva.

“Lo bodoh, Deb! Dengan lo ngelakuin semua ini, elo buat Ify sakit hati. Mendingan kita serahin aja si Vino ke polisi dan pastikan dia dikasi hukuman mati.”

Vino terhuyung. Ia terduduk di lantai sambil mengacak-acak rambutnya. “Gue bego! Gue sayang sama Sivia. Gue kenapa buat dia celaka? Kalo gue bisa, mendingan gue yang ketusuk pisau itu.”

Segerombolan polisi pun datang dan langsung membangunkan Vino. “Saudara Vino! Anda kami tangkap karena tuduhan pembunuhan terhadap saudari Sivia.”

Vino berontak. Ia berteriak histeris. “Saya bukan pembunuh! Alvin pembunuhnya. Siviaaaaaaaa!”

“Bawa aja dia, Pak! Dia yang buat Sivia celaka. Berikan saja dia hukuman mati!”


Vino pasrah. Tatapan amarahnya ditunjukkan ke arah Debo. Ia seakan-akan berkata ‘awas-lo-nanti’. Ia terus berteriak dan berontak. Bodoh! Vino bodoh karena harus mengorbankan Sivia karena balas dendam pada Alvin. Namun, ia puas karena dendamnya terbalas berkat Sivia. Dengan celakanya Sivia, itu membuktikan bahwa Alvin adalah cowok yang nggak waras.

***

“Sivia… kamu bertahan ya sayang. Demi aku dan demi anak kita.”
Alvin pun tiba di rumah sakit Sanglah. Dengan cepat Sivia mulai ditangani Dokter dan suster di ruang UGD.

Bersambung…

LIKE+comentnya yahh :)
maap ngaret.-.

Kamis, 17 November 2011

Berawal Dari MOS-Part 62 A

Title: Semua ini... MEMBINGUNGKAN! 

Author: Ni Putu Ayu Wina Laksmita Dewi 

Genre: Love, ++17 

Cast: dibaca aja deh.-. 

NB: For silent readers, like dong. Kalo ga coment no problem :) 
tp like ya. Hehe. 
For all readers, tetep baca ya :) 
jangan bosen sama bedamos. Love you all =) 
follow @BerawalDariMOS ya :) 
enjoy it! 

*** 

"Sial banget! Nggak hidup. Nggak mati. Alvin selalu aja nyusahin gue." gumam Vino kesal. 

"Vin, gue nggak bisa nerima lo. Hati gue hanya untuk Alvin. Bukan untuk orang lain." Sivia menunduk. Ya, ia memang sudah menjadi milik Alvin seutuhnya. Bahkan, Vino atau yang lainnya juga tidak akan bisa menggantikan Alvin di hati Sivia. Hati Sivia sudah begitu menyatu dengan Alvin. Walaupun Alvin selalu menyakiti Sivia, Sivia tetap sayang dengan Alvin. 

Hubungan Sivia dan Alvin memang belum lama. Mereka baru menjalani hubungannya sekitar 1 bulan lebih. Namun, takdir berkata lain. Hubungan Alvin dan Sivia harus berakhir sampai disini. Lagian siapa yang mau berstatus pacaran dengan orang yang sudah tiada? 

Vino Altha, sosok itu memang secara misterius masuk ke dalam kehidupan Sivia. Vino bahkan berusaha terus untuk menggantikan Alvin di hati Sivia. Vino dari dulu memang sudah mengagumi sosok Sivia. Namun, dari dulu juga ia selalu kalah saing dengan Alvin. Vino hanya ingin menang dari Alvin. Dan dia memang tidak sungguh-sungguh menyukai Sivia. Vino hanya ingin Sivia lepas dari Alvin. Ia lebih bagus dari Alvin! Sekolah di luar negeri, punya mobil sendiri, punya BB dan pakai behel. Siapa yang nolak cowok keren seperti Vino? Ya, bagi Sivia harta dan kualitas bukanlah yang terpenting. Memangnya siapa yang mau pacaran dengan cowok kasar seperti Vino? 

"Kenapa sih hidup gue mesti tersaingi sama Alvin?" 

Sivia tersentak. Ia menatap Vino. Sebenarnya Sivia sangat tidak tega melihat Vino terpuruk karena ingin menyaingi Alvin. Namun, apa Sivia tega menyakiti perasaan Alvin? Sivia tidak tega! Sivia tidak mau menyakiti Alvin hanya karena memilih Vino. Sivia masih sayang Alvin. Sungguh! Ia sangat menyayangi Alvin. 

"Apa aku selalu jelek dimata oang-orang? Apa Alvin bagus di mata semua orang?" tanya Vino sambil menatap Sivia. 

"Nggak semua orang kayak gitu. Alvin memang lebih baik daripada kamu. Makanya kamu harus rubah sifat kasarmu itu." Sivia tersenyum tipis. Rasa itu kembali dirasakan Sivia. Perasaan aneh muncul kembali. Dan kini, Sivia merasakannya karena Vino. Tapi, Sivia tidak terlalu mengenal sosok Vino. Apa dia bisa menerima Vino sebagai pengganti Alvin? Hati Sivia siapa yang tahu? Sivia bilang bahwa ia tidak bisa menerima Vino. Namun, hatinya berontak! Ingin rasanya Sivia berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia ingin sekali mencoba mendekati Vino. Entahlah... 

Alvin dan Vino, banyak sekali perbedaan dalam diri saudara kembar tersebut. Mereka memang serupa. Tapi tak sama! Banyak perbedaan. Dan Sivia sangat dibuat bingung dengan hadirnya Vino dalam hidup Sivia. Vino dan Alvin memang sama-sama ganteng dan keren. Perbedaannya adalah, Alvin dengan gaya cool-nya yang tingginya sama dengan Rio dan Vino dengan tampang kerennya dengan behel dan postur tubuhnya yang lebih tinggi dari Alvin. Memang, dari sifat hampir sama. Sama-sama nafsuan dan suka bertindak kasar pada cewek. Namun, jika disuruh memilih Alvin atau Vino, kebanyakan akan memilih Alvin. Mengapa demikian? Alvin masih bisa SEDIKIT lebih baik pada cewek. Berbeda dengan Vino! Vino nampak begitu KASAR dan tidak peduli apa yang terjadi pada cewek yang ingin ia dapatkan.

"Gue sadar! Gue tau bahwa gue emang kadar dan nggak peduli. Tapi, tolong terima gue apa adanya, Siv. Gue tulus. Gue bener-bener sayang dan cinta sama elo! Ini namanya love at first sight." 

Sivia berpikir sejenak lalu tersenyum dan mendekati telinga Vino. "Buktikan kalo emang kamu sayang dan cinta sama aku." 

Vino tertegun. Buktikan? Vino bingung harus melakukan apa. Namun, memang dengan cara membuktikanlah ia bisa memiliki Sivia. Vino tersenyum lebar. Ia menarik wajah Sivia. Ciuman hangat mendarat lembut di bibir Sivia. Vino memejamkan matanya sesaat. Cukup lama ia melakukan adegan itu. Vino nampak menikmati semuanya. 

"Sorry..." Vino melepaskan ciumannya. Ia mengelus perlahan bibir Sivia. Vino terdiam. Ia takut Sivia akan meledakkan amarahnya dihadapan Vino saat ini. 

"Itu bukti bahwa kamu sayang dan cinta sama aku?" tanya Sivia pelan. 

"Iya, Siv. Aku bener-bener tulus sama semua ini. Tolong! Percaya sama aku." mohon Vino. Ia mengenggam erat tangan Sivia. Ia menatap dalam-dalam mata Sivia. Vino hanya berharap Sivia bisa terhipnotis oleh semua rayuan palsu yang dibuatnya. 

Sivia mendorong Vino perlahan. Tatapan amarah terlihat pada raut wajah Sivia. "Brengsek tau! Buktiin sayang dan cinta bukan dengan nafsu. Itu sama aja nyari cewek cuma karena ada maunya. Gue nggak suka cowok yang kayak gitu, Vino." 

"Kamu mau bukti apalagi biar percaya sama aku?" tanya Vino sambil mengelus lembut pipi Sivia. 

Sivia tersenyum lebar. "Aku mau kamu jadi Alvin dan bukan Vino, gimana?" 

"Hah?" 

"Takut? Gitu doang kok syarat buat jadi pacar gue." 

'Sialan! Tau gini gue ogah nembak nih cewek. Nggak tau terima kasih banget. Alvin selalu aja paling the best! Gue? Seakan nggak dianggap.' batin Vino kesal. 

"Vin... Vino!" panggil Sivia. 

"Gue benci Alvin!" teriak Vino tanpa sadar. 

Sivia kaget. Ia mengerutkan keningnya sambil menatap Vino dalam-dalam. "Lo benci sama Alvin? Wah, sorry kalo gitu. Gue nggak bisa terima sebagai pengganti Alvin." 

"APA?!" kali ini gantian Vino yang kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa ucapannya tadi akan berakibat fatal seperti ini. Vino ditolak Sivia? Gagal total rencananya kalau seperti ini. Yang Vino ingin hanyalah Sivia lepas dari Alvin. 

"Maaf ya, Vino. Gue nggak bisa terima elo. Karena lo nggak bisa jadi Alvin buat gue." 

"Eh... Siapa bilang? Gue bisa kok jadi Alvin. Apa yang lo suka dari Alvin? Coba jelasin ke gue!" 

Sivia bungkam. Ia membekap mulutnya rapat-rapat. Sivia sadar bahwa dia salah mengucapkan kata-kata sebelumnya. TERPAKSA! Sivia harus dengan sangat terpaksa menjelaskan apa saja yang ia sukai dari Alvin. Sivia merutuki dirinya sendiri. Tak seharusnya ia mengucapkan kata terlarang itu pada Vino. 

"Vi..." panggil Vino pelan sambil mengenggam tangan Sivia. 

Sivia menatap Vino. Perlahan ia membuka mulutnya. "Gue suka semua dari Alvin. Dia itu gede dan bagus banget bentuknya." 

"Hah? Ngomong apa sih lo, Vi?" tanya Vino. 

Sivia menatap Vino. "Aku nggak pernah sayang dan cinta sama Alvin! Tapi aku suka sama yang ada dalam diri Alvin." 

"Ja...ja...jadi?" Vino terbata. 

"Ya, semua yang ada dalam pikiran itu bener banget. Kaget ya? Makanya! Kamu kayak Alvin nggak?" 

Vino memegangi dahi Sivia. Ia membolak-balikkan telapak tangannya dan berharap Sivia masih baik-baik saja. "Gue jauh lebih bagus kok dari Alvin!" 

"Hah? Serius? Mana? Coba lihat!" dengan semangatnya Sivia menarik-narik baju Vino. Ia ingin melihat apa yang diucapkan Vino. Dan mungkin, Sivia akan membuka hatinya untuk Vino. 

Vino menelan ludahnya. Heran? Tentu saja! Vino sangat heran dan bingung dengan kelakuan Sivia. Sivia bilang bahwa dia tidak suka dengan cowok yang nafsunya gede. Buktinya? Sivia termasuk cewek yang nafsunya gede banget! Vino tidak mengira bahwa Sivia menerima Alvin hanya karena dalamnya bermutu dan berkualitas. Vino mana pernah melihat yang ada dalam diri Alvin. Terakhir waktu Vino dan Alvin umur 1 tahun. Setelah itu Vino pergi meninggalkan Alvin dan yang lainnya. 

"Vino!" Sivia menyadarkan Vino dari lamunannya. Sivia sadar bahwa ia salah telah membuka rahasia hatinya kepada Vino. Namun, apa yang bisa dilakukan Sivia? Yang lalu biarlah berlalu. 

"Lo serius mau ngeliat? Seberapa besar nyali lo buat ngeliat yang ada dalam diri gue?" tanya Vino. 

"SERIUSLAH!" 

Vino tersenyum lebar. Perlahan-lahan ia mendekati Sivia. 

*SKIP* 
+SKIP+ 

Sivia masih tak percaya dengan semuanya. Ternyata ucapan Vino sebelumnya benar. Dan Vino sukses membuat Sivia bertekuk lutut. Sivia dengan refleks-nya langsung memeluk Vino dan menerima semuanya. Mungkin kini Alvin telah dinomor duakan oleh Sivia. Hal itu membuat Alvin kembali... BANGKIT! 

"Udah puas kan, sayang? Terus apalagi yang kamu mau?" tanya Vino sambil mengelus pipi Sivia. 

"Aku mau kamu jadi Alvin Sindunata! Bukan Vino Sindunata. Bisa?" 

Vino menepuk puncak kepala Sivia. "Jadi aku harus rela kamu panggil Alvin, iya?" tanya Vino. 

"Yap! Tapi... Kalo kamu nggak mau~~" 

"Aku mau kok jadi Alvin buat kamu." potong Vino. 

"Beneran, Vin?" 

"Iya, Siv. Bener kok." 

Sivia memeluk Vino dengan eratnya. "Thanks banget, Vin. Aku jadi sayang deh sama kamu." 

'Kamu tau, Sivia. Kamu cewek pertama yang punya nyali buat ngeliat semua itu. Entah kenapa... Aku beneran jatuh cinta sama kamu.' batin Vino sambil tersenyum tipis. 

*** 

"Menurut lo Alvin punya penyakit apa?" tanya Cakka. 

"Dia kayaknya punya penyakit di dada kirinya. Gue nggak begitu keras kok mukul dia." jawab Debo sambil menunduk. Semuanya menatap Debo dalam-dalam. 

"Kalo emang Alvin punya penyakit, kenapa elo tega mukulin Alvin sampai meninggal?" tanya Ify dengan amarah yang meluap-luap di kepalanya. Ify merasa kesal dengan Debo atas kematian Alvin. Ify tidak pernah menduga bahwa Alvin akan pergi secepat ini. Padahal, Ify baru saja ingin mengenal Alvin lebih dekat. Namun, nasib berkata demikian. Takdir Tuhan yang memisahkan kita semua dari orang yang kita sayangi. 

"Jangan nyalahin Debo juga dong! Debo kan dari awal nggak tau kalo Alv~~" ucapan Agni tersendat. Ia menganga seketika karena dari jauh Agni melihat Sivia dengan Vino, saudara kembar Alvin. 

"HEY SEMUA!" sapa Sivia sambil tersenyum lebar. 

Sontak semua anak FMIF dan SNG pun kaget setengah mati. Sivia berdiri bersama Alvin. Bukan... Tapi Vino. 

"Al... Al... Alvin." ucap Shilla terbata. 

"Iya, gue Alvin. Kaget ya?" Vino memperlihatkan gigi kawatnya itu. Ia tersenyum tipis pada semuanya. Walau berat cobaan yang harus dilalui Vino. Tapi, Vino merasa biasa saja. Ia malah menikmati semuanya. 

"Lo bukan Alvin! Alvin nggak pernah make behel. Giginya Alvin itu rapi!" bentak Rio pada Vino. 

"Itu Alvin!" tunjuk Deva ke belakang Sivia dan Vino. Sosok itu secara misterius langsung menghampiri SNG dan FMIF. 

Bersambung... 
Maaf ya kurang panjang T.T 
ngetik di hp soalnya. Besok kalo dapet ngetik di comp, aku panjangin deh :)