Minggu, 17 April 2011

Berawal Dari MOS-Part 38

Part 38: SANG MANTAN

*********************************************************************************************

Deva mendengus kesal. Deva merasa bahwa dirinya telah dinomor duakan oleh Acha. Acha mungkin lebih mementingkan Ozy dimata Deva. Deva vs Ozy? Mungkin perang dunia ketiga akan dimulai.

“ Maaf. Nggak maksud. ”

“ Kamu ketahuan pacaran lagi dengan cowok namanya Ozy. ” Deva bersenandung ria disamping Acha.

“ hah? Ozy pacaran sama siapa? ” tanya Acha.

Deva menepuk jidatnya. “ Pacaran sama monyet! ”

“ Hah?! Ozy lebih milih pacaran sama monyet daripada manusia? Ozy keterlaluan! ”

“ Aku heran deh sama cewek. Bisa-bisanya gitu dia nyebut nama SANG MANTAN didepan cowoknya sendiri. Bahkan cewek itu sama sekali nggak mikirin sakitnya yang dirasain sama pacar cewek itu. ”

“ Siapa ya cewek yang setega itu sama pacarnya? ” tanya Acha.

“ Hmm… siapapun cewek itu. Dia udah bikin pacarnya kesel dan sakit hati. Ceweknya nggak mikirin perasaan cowoknya. ” deva menopang dagunya. “ Sakit pasti rasanya kalo ada cewek yang setega itu sama cowoknya. ”

“ Emang siapa sih cewek itu, Dev? ”

“ Cewek itu adalah elo, Cha! Nyadar diri dong. ” J

“ hah?! Cewek itu bego? Ya ampun! Udah bego malah tega-teganya dia nyakitin perasaan cowoknya. Bener-bener cewek bego. ” Acha menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ Iya, saking begonia sampai dia nggak sadar sama dirinya sendiri. Emang dasar cewek bego! ” Deva mendengus kesal. “ Nggak pernah bisa nyambung sama topic pembicaraan. Dan harusnya cewek itu tau bahwa cowoknya sayang banget sama dia. ”

“ Lo ngomongin gue? ”

Deva mengangguk. “ Iya, biar lo sadar kalo gye itu sayang banget sama lo, Cha. Jadi, jangan pernah lo sebut nama Ozy lagi didepan gue. Karena gue nggak suka ada cewek yang kayak gitu. ”

“ Maaf. ” Acha menunduk. “ Aku ngerasa sesuatu yang buruk terjadi sama Ozy. Emang aku salah kalo khawatir sama mantan aku sendiri? Emang salah kalo aku sebut nama Ozy? ”

“ Jelas salahlah! Lo nyebut nama Ozy di depan gue. Gue ini pacar lo, Cha! Ngerti dong. ”

“ Jadi lo pacar gue? ” tanya Acha.

“ Mulai deh begonya. ” Deva melipat kedua tangannya didada. “ Jelaslah gue pacar elo, Acha. ”

“ Emang kapan kita jadian? Kok gue nggak pernah tau kalo kita jadian? ” Acha mengerutkan dahinya. “ Gue bahkan nggak inget tuh kapan elo nembak gue. ”

“ Gue nembak elo tanggal 14 februari 2011 jam 3 sore didepan Jalan Ciungwanara. Dan sekarang udah 3 bulan 1 haru lamanya. Lo lupa? ”

“ Lupa-lupa inget. Waktu itu lo cium gue kan? ” tanya Acha.

“ Waktu gue tenggelemin lo disungai. ” jawab Deva kesal.

“ What?! Emang kapan lo pernah cerburin gue ke sungai, Dev? Emang dimana ada sungai? Perasaan nggak ada sungai deh. ”

“ ACHAAAAA… ” Deva mengacak-acak rambut Acha saking emosinya menghadapi kekasihnya itu. Sungguh sangat sulit bagi dirinya memiliki kekasih seperti Acha. Bikin ribet dan menyusahkan banyak orang.

“ Ih, rambut aku rusak! Susah buat natanya tau. Bikin kesel aja. ” Acha memanyunkan bibirnya beberapa cm. kali ini Acha benar-benar kesal menghadapi Deva.

“ Ngambek nih? Seharusnya kan gue yang ngambek. ”

“ KITA PUTUS! ” bentak Acha.

Deva cengo dan tak percaya dengan apa yang diucapkan Deva barusan. “ What?! Putus? You crazy? ” Deva menyentuh tangan Acha.

“ Don’t touch me! I hate you boy. ” Acha beranjak pergi meninggalkan Deva.

“ Acha, don’t leave me alone. ”

“ Whatever you say! ” teriak Acha dari kejauhan.

Deva mendengus kesal. Cukup sudah emosinya terkumpul dan seakan ingin meluapkan semua emosinya itu. Namun, apa yang bisa dilakukan Deva? Deva menyesal karena telah membuat Acha membenci dirinya. Dan kini, Deva masuk dalam daftar nama SANG MANTAN Acha.

“ ACHAA, gue cinta sama elo. ” teriak Deva.

“ WOY BERISIK! ”

Deva keluar dari kelas untuk mencari refreshing dan mencuci otaknya. Deva benarbenar stress dengan masalah yang dihadapinya. Belum lagi rasa penasarannya terhadap cewek yang menolongnya tempo hari.

BRUKK—

Deva menabrak seseorang yang berada dihadapannya.

“ Woy, jalan pakai mata dong. ” bentak Deva.

Cewek itu memandang Deva tajam. “ Kok lo yang sewot? Eh, yang nabrak gue itu elo! Bukannya gue yang nabrak lo. Dasar cowok bego. ”

“ Eh, elo bukannya yang nolongin gue waktu itu? ” tanya Deva.

“ Idih, pede gila lo! Bukannya minta maaf malah ngalihin topic pembicaraan. Nggak banget deh. ”

Deva mendorong cewek dihadapannya itu. “ Songong banget lo jadi cewek! Tau gitu gue nggak perlu ditolongin sama cewek songong kayak lo. ”

“ Idih, najis kali ya nolongin elo. Mendingan juga gue nolongin monyet daripada elo. ” Cewek itu beranjak dari pandangan Deva dan pergi menjauh.

“ CEWEK SINTING, GILA, SARAP! Awas lo kalo ketemu lagi. Gue abisin lo disini. ” teriak Deva.

“ TERSERAH LO! ”

Deva semakin gila dibuat hari ini. Masalah Acha belum kelar malah muncul lagi cewek resek dan songong itu dihadapan Deva. Padahal, seingat Deva dia adalah cewek yang menolongnya tempo hari. Namun, cewek itu tidak mau mengaku pada dirinya. Deva pun semakin bingung dengan semua ini.

*********************************************************************************************

“ Hiks… hiks… Acha bego! Kenapa lo mesti putusin cowok semanis Deva karena kepikiran Ozy? Sadar Cha. Ozy udah jadi milik cewek lain. Lo jangan ngarepin cintanya Ozy lagi, Cha. ” Acha menangisi penyesalannya. Acha menyesal karena telah memutuskan hubungannya dengan Deva. Mengapa penyesalan selalu datangnya belakangan? Hmm… memang penyesalan selalu datang diakhir. Itulah yang kini dirasakan Acha. Memutuskan hubungannya dengan Deva hanya karena kepikiran dengan Ozy, SANG MANTAN. Dimanakah Ozy berada saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Itu yang sedang dipikirkan Acha.

“ Ozy, dimana kamu sekarang? Aku kangen sama kamu, Zy. Andai saja dulu aku bisa jelasin kalo Nyopon itu sepupu aku bukan selingkuhanku. Pasti semuanya nggak akan seperti ini. Aku emang cewek bego. Emang panteslah Deva bilang aku ini cewek bego. Karena aku emang cewek yang bego. Yang suka sia-siain cowok yang udah bener-bener sayang sama aku. Nyesel banget rasanya harus memutuskan hubunganku dengan Deva. Hmm… ”

“ Belum terlambat untuk semuanya. ”

Acha menoleh ke sumber suara itu dan langsung kaget melihat sosok yang ada dihadapannya itu.


Senin, 04 April 2011

Berawal Dari MOS-Part 37-Special CakShill, AlVia&ID

Part 37: Laguku Lagu Cinta dan Rasa Sayangku terhadap dirimu

***

Shilla berjalan perlahan menghampiri Cakka. Terbesit rasa kecewa terhadap Cakka yang bisa-bisanya menyebut nama Agni. Shilla membelai rambut Cakka. Shilla ingin Cakka segera sadar dari KOMAnya dan bisa bersama-sama lagi dengan dirinya dan juga Casillas. Tapi, Shilla hanya bisa menunggu kapan Cakka akan tersadar dari KOMAnya itu.

“ Sampai kapan sih, Kka?! Sampai kapan lo akan terus kayak gini? Disaat kondisi kayak gini bisa-bisanya lo nyebut nama Agni. Apa lo suka sama Agni? Gue tau lo itu sempet deket sama Agni. Tapi, Agni udah dimiliki Rio, Kka. Lo jangan ngarepin Agni lagi. Lo kan udah jadi milik gue, Kka... ” Shilla menghela nafasnya. “ Aku nggak bisa kayak gini, Kka. Kapan kamu bisa ngertiin perasaanku? Aku udah coba mencintai kamu, Kka. Walaupun hatiku masih belum rela ngeliat Alvin sama Sivia, aku akan ngerelainnya. Tapi, aku juga mau kamu ngerelain Agni sama Rio. Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini, Kka! ”

Tubuh Shilla bergetar. Airmatanya menetes tak henti-henti. Shilla ingin semua kembali seperti semula. Tidak seperti ini. Terasa hancur dan bingung.

Tok...tok...tok...
Shilla menoleh ke pintu UGD. Dilihatnya disana dokter dan suster hendak memasuki ruangan. Shilla menghampiri.

“ Ada apa, Dok, Sus? ”

“ Maaf, Bu. Kami harus segera memindahkan Casillas ke ruang operasi. Jadi, biaya administrasinya mohon dibayar. Ini demi keselamatan nyawa Casillas. ” ucap Sang Dokter.

Shilla menunduk. “ Saya belum punya uang, Dok. ”

“ Bayar setengahnya saja dulu. Demi keselamatan pasien, Bu. ”

Shilla mengangguk. “ Baiklah, saya akan mencari uang dulu. Permisi! ”

Shilla langsung berlari keluar rumah sakit dan langsung menuju kantor perusahaan Papanya. Shilla berharap Papanya mau membantu membayar biaya rumah sakit Cakka dan Casillas. Shilla bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Hanya Papanyalah satu-satunya harapan Shilla saat ini.

@BKPMD

“ 50 Juta? ” Papa Zaenal, nampak terkejut saat anaknya meminta uang sebanyak itu. “ Princess, untuk apa uang sebanyak itu? Bukannya selama ini kamu yang nggak mau Papa kasih uang? ”

Shilla menunduk. “ Demi keselamatan temen Shilla, Pa. Dia harus segera dioperasi. Shilla mohon, Pa. Shilla butuh banget uang itu. Shilla janji akan mengembalikan uang itu secepatnya. ”

Papa Zaenal tersenyum. “ Baiklah, karena uang itu untuk kebaikan. Papa akan berikan uang kepadamu. Tapi, nggak usah dikembaliin ya. Papa ngasihnya ikhlas kok. Papa kasih cek aja ya? ”

Shilla mengangguk lemas. Shilla merasa tidak tega pada Papanya. Baru kali ini Shilla meminta uang kepada Papanya. Padahal, selama ini Shilla hidup mandiri tanpa bantuan Papanya.

“ Ini sayang. Papa kasih 75juta ya. Papa tahu kamu lagi butuh uang. Kalau ada apa-apa, jangan lupa bilang sama Papa ya. Papa pasti akan bantu kamu. ”

“ Tapi Pa... ”

“ Udah... Nggak apa-apa kok. Kamu ambil aja uang itu. ” Papa Zaenal tersenyum.

Shilla memeluk Papanya. “ Makasih, Pa. Shilla sayang Papa. ”

“ Papa juga sayang Princess. Ya udah sana ke rumah sakit. ”

“ Iya, Pa. Shilla mau ke bank dulu. Makasih ya, Pa. ”

“ Sama-sama Princess. ”

Shilla tersenyum dan pergi meninggalkan Papanya. Shilla sangat senang karena Papanya bisa membantu kesulitan yang dialaminya.
Shilla menuju bank untuk menarik uang sebesar 75juta. Namun....

“ Eh, ada eneng cantik rupanya. ”

“ Jangan ganggu gue!! Gue bisa teriak kalo lo semua berani macem-macem. ” Shilla mendelik ke arah preman yang mencegatnya itu. “ Minggir! Gue mau lewat. ”

“ Cantik-cantik galak. Serahin kopernya ke kita. ”

Shilla menggeleng. “ Nggak akan!! Ini uang berharga buat gue. Lo nggak usah ngalangin jalan gue. ”

“ Uang atau nyawa? ”

“ Atau! ” jawab Shilla.

“ Uang Nyawa? ” Preman itu menyodorkan pisau ke arah Shilla. “ Serahin uangnya kalo lo mau selamat. ”

“ TOLLOOOOONGGGGGGGGG... ”

PLAAKKK--

“ Lo jangan teriak! Karena nggak akan ada orang yang berani lewat kawasan daerah Panjer. ”

“ Lepasin gue!! ” Shilla berteriak lebih kencang.

Preman itu nampak sedikit panik dengan teriakan Shilla yang kencang.

“ WOY, LEPASIN CEWEK ITU! ”

***

Sivia menarik tangan Alvin jauh pergi meninggalkan kantin. Sivia terus menarik Alvin tanpa melihat arah dan tujuan yang tepat. Alvin hanya pasrah mengikuti Sivia. Dipikiran Alvin hanyalah kesempatan untuk berdua bersama Sivia.

Sivia menghentikan langkahnya dibelakang sekolah yang nampak sepi dan tidak ada seorangpun yang mengunjungi tempat yang kotor dan mengerikan itu.

“ Lo tega mempermalukan gue didepan anak-anak. Lo udah nggak sayang lagi sama gue, Vin? ”

Alvin menarik nafasnya panjang.

Arti hadirmu dalam hidupku...
Kau bawa mimpi indah temani tidurku...
Yang tak pernah ku rasakan...
Sebelumnya disaat kau masih dalam hayalku...

Cinta terlahir diantara kita...
Melewati seribu senyummu...
Yang tak pernah kurasakan...
Sebelumnya disaat kau masih dalam hayalku...

Berjuta rasa cinta tercipta...
Mengiringi langkah kau dan aku...
Menyelimuti masa yang lalu...
Dan tak mungkin terpisahkan...

Kata sayang untuk dirimu...
Yang ku hembuskan kepadamu...
Sebagai tanda cintaku untuk dirimu...

Takkan hilang ditelan waktu...
Takkan sirna ditelan bumi dan...
Takkan punah termakan ragu...
Menghiasi seluruh hidup dan matiku...
(unğu-Rasa Sayang)

Sivia tersenyum manis dan langsung memeluk Alvin. Sivia baru mengerti bahwa Alvin menyimpan rasa sayang yang mendalam selama ini terhadap dirinya.

“ Aku sayang kamu, Vi. ” Alvin membelai rambut Sivia. “ Maafin aku tadi ya, Vi. ”

Sivia melepaskan pelukannya lalu menatap Alvin. “ Kamu nggak salah! Aku yang salah karena udah ngomongin Sion. Maafin aku ya, Vin. Aku janji nggak akan nyebut Sion lagi. Aku janji! ”

Alvin tersenyum. “ Aku udah maafin kamu kok, Vi. Jangan diulangi lagi ya kesalahan yang sama. Karena aku nggak suka banget sama sifat orang yang suka ngulangin kesalahan yang sama. ”

“ Aku nggak akan ngulangin kesalahan yang sama, Vin! Aku janji sama kamu. Aku nggak mungkin menghianati kamu. Karena aku sayang sama kamu. ”

Alvin menarik Sivia. “ Ikut aku, sayang. ”

Sivia meronta. “ Jangan gila, Vin! Disini sepi dan serem banget. ”

“ Ada aku, ”

Alvin terus menarik tangan Sivia. Alvin menghentikan langkahnya disebuah bangku yang ada dibelakang sekolah itu. Bangku yang nampak kusam dan berisi tulisan ’ Don’t sit in this desk ’(?). Alvin menarik tangan Sivia dan mengajaknya duduk di bangku itu.

Sshhhsssuuhhh....ssshhh...

Hembusan angin yang aneh terasa dileher Sivia. Sivia bergidik. Sivia merasa aneh ketika menduduki bangku itu.

“ Kamu kenapa, Vi? ” tanya Alvin.

“ Jangan duduk dibangku ini!! Ini bangku milik Roselina Marriam Pantison Jackson. ” kata-kata itu tiba-tiba terlontar dari mulut Sivia.

“ Hah? Dia siapa? ”

“ Kita harus cari tempat lain. Aku takut, Vin. ” Sivia bergetar dan sangat ketakutan.

Alvin merasa kasihan melihat Sivia. “ Ya udah, kita cari tempat lain aja. ”

Alvin kembali menarik tangan Sivia dan akhirnya berdiri didekat tembok.

“ Cinta sejati
mendengar
apa yang tidak dikatakan
mengerti
apa yang tidak dijelaskan
sebab cinta tidak datang dari
bibir
lidah
atau pikiran
melainkan... HATI ”

Sivia bengong menatap Alvin dihadapannya itu. Sivia baru pertama kali mendengar Alvin ngomong dengan kata-kata cinta. Baru kali ini Sivia mendengarnya.

“ Belajar darimana, Vin? ”

“ Tiba-tiba terlontarkan semua kata-kata itu. Aku sayang kamu, Sivia. ”

Alvin mendekati Sivia. Sivia semakin mundur hingga akhirnya Ia terdorong ke tembok.

“ Auuww... ”

Alvin tersenyum. “ Berikan aku ciuman pertamamu. Agarku yakin kau memanglah milikku. Kau mungkin bukanlah cinta pertamaku. Namun kau pasti cinta terakhirku. ”

Sivia mendorong Alvin. “ Yee... Udah kali. ”

Alvin menggeleng. “ Kamu kan belum pernah cium aku, Vi. Selama ini aku terus kan yang cium kamu. ”

“ Alvin... Malu tau. ”

“ Kenapa mesti malu? Disini cuma ada kita berdua dan para pembaca, Vi. ” ucap Alvin. “ Kamu nggak sayang ya sama aku? ”

Sivia menggeleng. “ Aku sayang sama kamu, Vin! ”

“ Buktiin! ”

‘ Bantu aku Tuhan. ’ batin Sivia.

Sivia mendekati Alvin perlahan. Didekatinya Alvin dengan jarak yang hanya beberapa cm.

‘ Kuatkan hambamu Tuhan. ’ Sivia menarik nafas panjang.

“ Kok lama banget sih, Vi? ” protes Alvin.

Sivia semakin mendekat ke arah Alvin.

CUUPPP(?)
Sivia mencium pipi Alvin. Wajah Sivia langsung berubah menjadi merah seperti tomat.

“ Di Pipi, Vi? Ah, ga asik. ” Alvin memanyunkan bibirnya.

“ Ih, udah dikasih juga. Bete jadinya. ” Sivia beranjak meninggalkan Alvin dengan rasa kecewa.

“ Via.... ”

Alvin mengejar Sivia yang nampak sudah jauh pergi meninggalkannya.

***

“ Kamu sayang sama aku nggak, Fy? ” Debo memegang tangan Ify. Genggaman erat tangan Debo seakan tak mau kehilangan sosok Ify disisinya.

Mungkinkah kau tahu...
Rasa cinta yang kini membara...
Yang masih tersimpan...
Dalam lubuk jiwa...

Ingin ku nyatakan...
Lewat kata yang mesra untukmu...
Namun ku tak kuasa...
Untuk melakukannya...

Mungkin hanya lewat lagu ini...
Akan ku nyatakan rasa...
Cintaku padamu...
Rinduku tak bertepi...

Mungkin hanya sebuah lagu ini...
Yang slalu akan kunyanyikan...
Sebagai tanda betapa aku...
Inginkan kamu...
(unğu-Laguku)

“ Jadi... ”

“ Iya, semua perasaanku aku bilang lewat lagu itu. ” Ify tersenyum. “ Aku sayang kamu, De. ”

Debo mengenggam erat tangan Ify. “ Sungguh? ”

Ify nampak meringis karena genggaman Debo. Namun, Ia mencoba tetap tersenyum. “ Sungguh. Cuma kamu yang ada dihatiku saat ini, De. ”

“ Jujur sama aku! Kamu masih suka sama Lintar? ” Debo melepaskan genggamannya dan menatap lekat-lekat Ify.

“ Apaan sih! Jangan ngomongin Lintar lagi dong. Kamu bikin aku bete aja. ” Ify mendengus. “ Udah aku bilang kan. Dihatiku cuma ada kamu. Dan nggak akan ada orang lain yang bisa gantiin kamu. ”

“ Aku kan cuma mau pastiin aja, Fy. Aku nggak mau sakit hati lagi. ” Debo menunduk. “ Maafin aku, Fy. ”

“ Hmm... ”

“ Kamu marah, Fy? ”

“ Nggak. Cuma kepalaku agak pusing, De. ” Ify memegangi kepalanya. “ Pusing banget, De. Baru kali ini kepalaku pusing banget. ”

“ Kamu sakit, Fy? Kita ke UKS ya. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. ”

Ify menggeleng. “ Nggak! Aku cuma pusing aja, De. Aku nggak apa-apa kok. Kamu nggak usah terlalu over protektif deh. Aku nggak suka, De. ”

“ Iya. Tapi, aku cuma nggak mau kamu sakit, Fy. Aku takut kamu sakit. ”

Ify menatap Debo. “ AKU NGGAK APA-APA! ” ucap Ify dengan nada tinggi. “ Nggak usah khawatirin aku. Aku bisa jaga diriku sendiri. ”

“ Aku ini pacar kamu, Fy. Jadi aku berhak khawatir sama kondisi kamu. Liat, wajah kamu pucat. Kamu nggak ngerti sama sekali apa yang aku rasain. ”

Ify menunduk. Ia kembali memegangi kepalanya. Sakit luar biasa dirasakan oleh Ify. “ De, kepalaku pusing. Tolong jangan bikin aku tambah pusing. ”

“ Aku nggak buat kamu pusing! Tapi, kamu yang buat aku pusing kayak gini. ”

“ Eeerrrgghhh ”

Ify semakin memegangi kepalanya. Debo panik dan segera menuntun Ify ke UKS.

***

“ Cabut. ”

Preman itu kalang kabut langsung pergi meninggalkan Shilla. Shilla menarik nafasnya karena ada orang yang dengan baik hati menolongnya. Shilla menoleh ke belakang dan langsung tersenyum melihat sosok laki-laki dibelakangnya itu.

“ Thanks ya. ”

“ Sama-sama. Lain kali hati-hati ya. Nama kamu siapa? ”

“ Ashilla. Panggil aja Shilla. Kamu? ”

“ Aku Riko. Riko Anggara. Aku anak daerah sini. Jadi, preman-preman pada takut sama aku. ” ucap cowok itu tersenyum. “ Oya, ngomong-ngomong siapa yang sakit? Aku lihat kamu tadi menjaga banget uang didalam koper itu. Dan arah tujuan kamu ke rumah sakit Sanglah. ”

“ Pacarku. Namanya Cakka. Terus sama adik angkatku, Casillas. Mereka kecelakaan. Cakka KOMA dan Casillas harus segera dioperasi. Makanya aku jaga banget uang ini. ” jelas Shilla.

“ Oh... Tapi, hati-hati ya. Kasihan kan cewek cantik kayak kamu mesti dilukai sama preman kayak tadi. ” Riko tersenyum. “ Aku pergi dulu ya. Hati-hati. ”

Shilla tersenyum. “ Iya, thanks banget ya, Rik. Aku nggak tau apa jadinya kalo nggak ada kamu. Sekali lagi makasih. ”

Shilla segera pergi dan kembali menuju rumah sakit.

@RS Sanglah

Setelah membayar biaya administrasi, Shilla mondar-mandir di depan ruang operasi. Shilla khawatir dengan kondisi Casillas. Shilla berharap operasi Casillas kali ini bisa berjalan lanjar. Dan Shilla tinggal menunggu kesadaran Cakka dari tidur panjangnya.

‘ Tuhan, tolong selamatkan nyawa Casillas. Aku mohon. ’ batin Shilla.

Shilla masih mondar-mandir didepan ruang operasi. Shilla takut terjadi apa-apa pada Casillas. Shilla hanya bisa berdoa untuk keselamatan Casillas.
30 menit kemudian Dokter dan Suster keluar dari ruang operasi dengan wajah menegangkan.

“ Dok, Casillas selamat kan? Casillas nggak pergi ninggalin aku kan, Dok? Casillas masih bisa bertahan kan? Jawab Dok! ”

Dokter itu menghela nafasnya. “ Casillas.... ”

***

“ Viaaa.... Kalo kamu ngambek ntar aku cium. ” teriak Alvin.

Sivia menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan. “ Apaan sih, Vin? Kamu nggak suka kan sama aku? Aku emang nggak sesempurna Princess Ashillamu itu. ” Sivia tersenyum sinis. “ Oh, Ashilla. Kamu cewek yang sempurna dimataku. ”

“ Vi... ”

“ Hahaha, emang gue nggak bisa kayak Shilla. Karena gue emang nggak sempurna! ”

“ LO MELEBIHI SHILLA DIMATA GUE, VI! ” bentak Alvin. “ Gue cuma sayang sama lo. Bukan Shilla! ”

Sivia tersenyum. “ Oh ya? Bukannya orang yang kamu sayang itu Shilla? Ngaku aja deh, Vin! ”

Alvin memeluk Sivia. “ Jangan sebut nama Shilla lagi!! Tolong, Vi. ”

“ Maaf... ”

Disaat waktu berhenti...
Mengikuti semua langkah-langkahku...
Kau adalah satu-satunya...
Yang kuharap hadir dalam hidupku...
Disaat mentari berhenti...
Mencoba menghangati tubuhku...
Kau adalah satu-satunya...
Yang kutunggu hadir dalam jiwaku...
Menerangi semua...
Sudut ruang hatiku...
Memberikan kekuatan...
Dalam setiap langkahku...
Lagu cinta untukmu dari lubuk hatiku...
Yang akan selalu ku nyanyikan sampai akhir hidupku...
Lagu rindu untukmu dari dasar jiwaku...
Yang akan slalu ku nyatakan diseluruh akhir hidupku...
Lagu rindu untukmu dari dasar jiwaku...
Yang akan slalu ku nyatakan diseluruh hidupku...
Wwooo oohhh wwaaa ahhh...
(unğu-Lagu cinta)

Sivia melepaskan pelukan Alvin. “ Jangan nyanyi deh, Vin! Suaramu aneh tau. Hahaha. ”

“ Suaraku kan keren, Vi. Kayak Christiano Ronaldo. ”

Sivia menoyor Alvin. “ Cristiano Ronaldo bapakmu! Dia kan pemain bola bukannya penyanyi. Kalo penyanyi itu Cristian Bautista. ”

Alvin mencubit pipi chubby Sivia. “ Enggak. Cristiano Ronaldo. Penyanyi dunia yang lagi terkenal itu. Yang nama fansnya Beliebers. ”

“ Itu Justin Bieber, Vin. Jangan lola deh! ”

“ Iii... Justin bieber kan yang nyanyi Just The Way You Are. Ngawur kamu, Vi. ”

“ ITU BRUNO MARS. ” ucap Sivia sambil manyun. “ Udah ah. Balik yuk, Vin. Udah mau masuk nih. ”

“ Ngambek ni yee.. ”

“ Balik atau gue tinggal? ”

“ Oke, balik ke kelas. ”

***

@UKS

Debo mendudukkan Ify diatas kasur UKS. Debo nampak sangat khawatir dengan kondisi Ify saat ini. Ify nampak semakin pucat dan memegangi kepalanya terus-terusan.

“ Kepala kamu masih pusing, Fy? ”

“ Pusing banget, De. ” keluh Ify. “ Tapi aku nggak apa-apa, De. Cuma pusing biasa aja. ”

“ Ini bukan pusing biasa, Fy. Kita ke rumah sakit ya? ” ajak Debo.

“ Nggak! Aku nggak mau ke rumah sakit. Aku anti banget sama rumah sakit. ” tolak Ify. “ Aku lebih baik kayak gini daripada mesti berhadapan sama rumah sakit. ”

“ Tapi kenapa, Fy? ”

“ Kak Goldi meninggal di rumah sakit karena penyakitnya. Aku jadi benci sama rumah sakit! Aku sayang banget sama Kak Goldi, De. ”

Debo menunduk. “ Maaf, Fy. Maaf aku udah buat kamu teringat akan kejadian itu. Tapi, kondisi kamu semakin buruk kalo nggak diperiksa, Fy. ”

“ Biarin aku kayak gini! Nggak ada yang peduli sama aku, De. Cuma Kak Goldi yang dulu peduli sama gue. Dan nggak ada orang yang peduli sama gue. ”

Debo memeluk Ify. “ Aku peduli sama kamu, Fy. Aku akan ngejagain kamu. Dan aku nggak akan pernah ninggalin kamu. ”

“ Hmm... ”

“ Aku bersungguh-sungguh, Fy. Aku nggak mau kamu sia-siain hidup kamu kayak gini. Hidup kamu masih panjang. Jangan disia-siain. ”

Ify melepaskan pelukan Debo. “ Iya. Hidup aku emang masih panjang. Tapi, itu sama aja nggak ada artinya. ”

“ Sst... Jangan ngomong gitu! Mendingan kita ke rumah sakit sekarang. ”

“ Nggak mau!! ”

“ Ayolah, Fy. Aku nggak mau kamu sakit. ” mohon Debo.

“ Aku nggak mau, De. ”

“ Aku mohon, Fy. ”

Ify menunduk. “ Ya udah deh. Tapi cuma periksa aja ya! Dan jangan terlalu over protektif. ”

“ Iya, sayang. ”

Ify beranjak dari kasur UKS. Ify dan Debo langsung meminta ijin pada pihak sekolah dan kemudian pergi menuju rumah sakit Sanglah.

TO BE CONTINUED...
LIKE+COMENT YAA....
THANK YOU...

Kamis, 31 Maret 2011

Berawal Dari MOS-Part 36

Part 36 : Best Friend or Enemy?!

***

Shilla terdiam memandang kekasihnya yang sedang terbaring lemah diatas kasur rumah sakit. Shilla bingung harus melakukan apa. Saat ini hatinya menangis melihat kekasihnya dan anak angkatnya dalam kondisi memprihatinkan. Perlahan-lahan air mata jatuh membasahi pipi Shilla. Shilla tidak sanggup melihat semua ini. Shilla ingin semuanya kembali. Saat-saat dimana kebahagiaan itu datang menghampiri. Disaat Casillas menjahilinya dan saat Cakka selalu merayu dirinya. Shilla merindukan semua itu. Namun, seketika semua terhenti. Permusuhan itu datang menghancurkan persahabatan antara Five Boys dan Five Girls. Persahabatan berakhir seketika. Entah apa masalah yang diberikan untuk persahabatan FG dan FB. Tapi, semuanya telah berakhir. Kebahagiaannya kini harus diselimuti kesedihan. Kesedihan melihat kekasih dan anak angkatnya melawan maut yang hendak mencabut nyawa mereka. Shilla tidak bisa melakukan apa-apa. Shilla hanya bisa meneteskan air matanya menghadapi yang terjadi. Bahkan, untuk membayar biaya operasi Casillas pun dia tidak sanggup. Shilla tidak tahu darimana harus mendapat uang sebanyak itu. Shilla tidak mungkin meminta bantuan pada Papanya. Shilla memang anak orang kaya. Ayah Shilla seorang pengusaha besar. Namun, Shilla tidak memanfaatkan kekayaan keluarganya. Shilla mencoba hidup mandiri dan tidak menyusahkan Papanya. Shilla bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

” Ami... Angan ingalin Illas ama Api. ” Casillas mengigau dalam tidurnya. Shilla menghapus airmatanya dan mendekati Casillas. Shilla memandang dari ujung rambut hingga kaki. Shilla merasa tidak tega melihat kaki Casillas yang diperban-perban. Shilla merasa bersalah pada dirinya sendiri.

” Casillas... ”

Shilla menyeka airmatanya. Tak kuasa Ia melihat Casillas berjuang mempertahankan hidupnya.
‘  Tuhan, bila kau izinkan. Lebih baik ambil nyawaku saja. Jangan ambil nyawa anak kecil yang belum merasakan hidup yang lama. Aku tidak tega melihat anak kecil harus pergi. Kalau kau mau, kau ambil saja nyawaku. Jangan Casillas ! ’ batin Shilla.

“ Ami... ”

Shilla membelai rambut Casillas. Shilla tersenyum memandang Casillas. Kondisinya memprihatinkan. Shilla hanya tidak mau anak kecil seperti Casillas harus berjuang melawan maut yang hendak menjemput. Shilla tidak mau itu terjadi.

“ A...A...Agni... ”

Shilla menoleh ke arah Cakka. ‘ Agni? ’ pikir Shilla. Shilla mengernyitkan dahinya karena ucapan Cakka barusan. Bagaimana mungkin Cakka bisa menyebut nama Agni disaat seperti ini? Dan apa mungkin ada hubungan spesial diantara Cakka dan Agni?

***

“ Gue kecewa sama lo. ” Agni menahan air mata yang hendak tumpah. “ Lo suka sama Alvin? Gue sakit hati, Io. Lo lebih suka sama Alvin dibanding pacar lo sendiri. Kecewa gu... ”

” Lanjut, Ag. ” ucap Debo. “ Jangan berhenti ditengah jalan. ”

“ Gue... ” Agni berhenti sejenak. “ Gue lupa mau bilang apa. Gue ke toilet dulu. ”

Agni langsung pergi dari lapangan dan lari menuju kamar mandi. Rio tertawa memandang kepergian Agni.
“  Lo lebay banget dah tadi, Io. Kan kasihan Agni. Akting lo nggak lucu. ” Alvin tertawa cekikikan. “ Agni sampai lupa dia mau bilang apaan. ”

“ Hahaha, iya. Tadi sebenernya nggak akting kali, Vin! ” Rio memandang Alvin. “ Tadi gue ngomong jujur. ”

“ Jadi lo beneran suka sama Alvin? ” Debo nampak tak percaya dengan ucapan yang dilontarkan Rio sebelumnya.

“ Lo maho ya? Idih... ” Alvin bergidik. “ Males gue punya temen kayak lo. Najis! ”

“  Nggak!! Gue dulu emang suka sama lo, Vin. Tapi, semuanya udah hilang semenjak hadirnya Agni. Sebenernya gue suka sama Shilla setelah gue coba pendam perasaan gue ke elo. Tapi, gue lihat Agni lebih dari Shilla. Gue lihat banyak kesamaan lo yang ada didalam diri Agni. Apalagi Agni itu tomboy. ”

“ Lo gila kali ya! Lo cuma mau mainin perasaan Agni? ” Debo merasa tidak terima dengan ucapan Rio. “ Lo jangan mainin perasaan Agni! Gue nggak suka liat Agni sampai nangis gara-gara cowok kayak lo. ”

“  So what?! Hidup-hidup gue. Agni pacar gue! Lo nggak usah ikut campur ya. Mending lo urus tuh dua orang cewek diseberang sana yang lagi mau celakain Ify. ”

Debo menoleh ke seberang. Tepatnya ke arah toilet sekolah. Debo melihat Ify yang sedang diganggu Itte dan juga Aren.
“ Ify... ” Debo segera berlari menghampiri mereka.

“ Lho, Debo ngapain ke toilet cewek? ” Agni yang baru datang langsung menghampiri Rio dan Alvin.

” Nyamperin Ify yang lagi diganggu sama dua cewek. ” jawab Rio.

“ Oh... ”

Toeeettt...toeeettt...toeeettt...

Bel istirahat berbunyi. Rio, Alvin, Debo dan Agni terlepas dari hukuman Gabriel dan Zahra.

“ Akhirnya.... ” ucap Alvin. “ Gue mau nyamperin pacar gue tersayang. ”
Alvin pergi meninggalkan Rio dan Agni.

“ Ag... ”

“ Stop!! Gue males ngomong sama lo. ”

Agni meninggalkan Rio. Perasaannya benar-benar kacau karena semua ini.

***

“ LEPASIN IFY! ”

Aren menoleh ke sumber suara itu. Aren nampak terkejut melihat Debo memasuki toilet cewek. Itte menghentikan aksinya menjambak rambut Ify. Itte langsung terdiam ketika melihat Debo datang.

“ De...Debo... ”

Ify memeluk Debo. Ify bingung harus melakukan apa. Ify hanya mau semuanya seperti semula. Tanpa hadirnya Itte, Aren, Lintar maupun Dimas dihidupnya.

“ Brengsek lo berdua. Itte, tolong jangan ganggu hubungan gue lagi sama Ify. Dan lo Ren! Jangan ikut-ikutan ke aliran sesat kayak Itte. Gue tau lo itu nggak tega nyakitin Ify. Tapi, gue nggak suka lo kayak gini. Dipengaruhin sama aliran sesatnya Itte. ”

“ Maaf. ” Aren menunduk. “ Gue cuma nggak suka liat lo sama cewek lain. ”

“ Sama. Gue juga nggak suka liat lo sama cewek lain! Apalagi sama cewek yang kayak Ify. Nggak banget deh! ” sahut Itte. “ Sampai kapanpun, lo nggak akan pernah bisa tenang kalo pacaran sama cewek kayak Ify! ”

Ify melepaskan pelukannya dan menatap Itte. “ Sampai kapan sih lo mau ngeganggu hubungan gue sama Debo? Apa gue punya salah sama lo? Gue sayang sama Debo. Dan tolong jangan ganggu hubungan gue sama Debo! ”

“ Argh!! Gue pusing. Cabut, Itte. ” Aren menarik tangan Itte dan keluar dari toilet itu.

“ Huh... Untung aja itu anak dua udah pergi. ”

“ Jangan macem-macem deh. Ini toilet cewek, De. Ayo keluar. ” ajak Ify.

“ Emang kalo aku macem-macem kenapa? Ada larangan ya, Fy? ” Debo mendekati Ify. “ Lagi sepi ini, Fy. ”

“ De... Jangan macem-macem. Aku nggak suka deh kalo gini. ”

Debo mengacak-acak rambut Ify. “ Makin sayang deh aku, Fy. Yuk balik ke kelas. ”

Ify tersenyum. “ Yuk. ”

***

“ Mau makan apa sayang? ”
tanya Alvin pada Sivia.

Sivia melihat daftar makanan yang berada dikantin sekolah. “ Hmm, rujak aja deh, Vin. Lagi pengen banget. ”

“ Ngidam ya, Vi? ”

Sivia menoleh. “ Heh? Enggak. Gue cuma lagi pengen aja sama rujak. Jangan mikir macem-macem deh, Vin. ”

“ Iya. ”

Alvin dan Sivia langsung duduk dimeja kantin setelah mendapat pesanan.

“ Bentar lagi ya, Vi. ”

“ Uhuukk... Uhuukk... ” Sivia tersedak rujak karena ucapan Alvin.

“ Minum, Vi. Ini. ” Alvin menyerahkan segelas es teh kepada Sivia.

Sivia menghela nafasnya. “ Apanya yang sebentar lagi? ”

“ Nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak sabar aja liatnya. ”

“ Apa sih? ”

Alvin tersenyum. “ Lupain aja, sayang. ”

“ Iya. Tapi, gimana kabarnya Sion ya, Vin? Kasihan dia harus dipenjara. ”

Alvin mendengus kesal. “ Sion lagi. Sion lagi. Biarin ajalah dia dipenjara! Aku udah nggak perduli lagi sama Sion. ”

“ Aku kan cuma nggak tega, Vin! Lagian kamu juga laporin dia ke polisi. Dia kan nggak ada apa-apain aku, Vin. ”

“  What?! Nggak ada ngapa-ngapain? Jelas-jelas dia itu mau memperkosa lo, Sivia. Nyadar dong. Kalo gue dateng telat nyelametin diri lo, apa yang udah dilakuin sama Sion. Lo sih nggak pernah ngerti. Kurang apalagi sih gue dimata lo, Vi? ”

Sivia menunduk. “ Maaf. ”

“ Kalo gue telat dateng, lo udah diperkosa sama Sion. ” bentak Alvin.

Seluruh pengunjung kantin memandang Alvin dan Sivia. Sivia takut semuanya tersebar hanya karena ulah Alvin. Sivia hanya tidak mau harga dirinya jatuh disekolah.

“ Ikut aku. ” Sivia menarik Alvin. “ Jangan bikin kerusuhan dikantin. ”

***

“  Dev, aku nggak tega ngeliat Debo. ” Acha mengelus tangan Deva. “ Aku nggak nyangka kalo dia itu anak tunggal dan ortunya cerai. ”

“ Cakka juga tau. ”

“ Hah? ”

“  Iya, Cakka juga anak broken home. Ortunya pisah waktu Cakka masih kecil juga. Tapi, Cakka punya kakak. Aku salut sama Debo, Cha. Dia bisa bertahan disaat seperti ini. Dia kayak nggak ngerasa kesepian gitu. ”

“ Iya, aku juga salut sama dia. Dia nggak ngerasa kesepian. Terus dia juga nggak tinggal sama kedua orang tuanya. ”

“ Hmm... Iya. ”

“ Ozy. ”

“ Hah? Ozy? ”

Acha menepuk jidatnya. ‘ Mampus gue. ’ batin Acha.

Deva memandang Acha. Deva merasa sedikit rasa kecewa pada Acha. Apa mungkin Acha masih memiliki rasa terhadap Ozy? Dan bagaimana dengan perasaannya terhadap Deva?

TO BE CONTINUED