Senin, 20 Juni 2011

Berawal Dari MOS--Part 52

Part 52: OMG?! ALVIN SAMA SIVIA KENAPA?

***

Hari itu kembali terjadi. FMIF dan SNG pun telah kembali ke sekolah. SMA IDOLA BERSINAR, sekolah yang kata orang-orang paling the best dan terpopuler. Padahal, bagi FMIF sekolah mereka nggak ada bagus-bagusnya. Dari segi bangunan terlihat memang bagus dan sempurna. Namun, dari belakang bangunan sangat kotor dan sama sekali kurang dirawat. Katanya, dulu ada cleaning service sekolah yang udah berhasil ngebersihin halaman belakang sekolah. Tapi, besoknya masih tetap ada sampah-sampah kotor itu. Hii... (?)

" Debo kemana sih? Perasaan dia kan lagi amnesia. Tapi, kenapa dia nggak keliatan ya? Emangnya dia tau jalan buat ke sekolah? " Sivia nampak celingukan mencari sosok Debo yang tak kunjung tiba. Rasa khawatir juga menghampiri Sivia. Ia hanya takut Debo tidak sampai rumah karena kemarin anak FMIF dan SNG meninggalkannya dipinggir jembatan.

" Hey, temennya Agni kan? "

Sivia tersadar dari lamunannya kemudian memandang orang yang menyapanya barusan. " Debo... "

" Nama kamu siapa? Kok sendirian disini? " tanya Debo sambil tersenyum.

" Sivia. Aku lagi nungguin kamu kok disini. Aku kan tau kamu itu lagi amnesia. Jadi, nggak baik anak amnesia itu jalan sendirian. " jawab Sivia sambil tersenyum juga.

" Oh, Sivia. Nungguin aku? Seriusan? "

" Seriuslah. Lagian ngapa... " Sivia menghentikan ucapannya ketika melihat Alvin bergandengan tangan bersama Ify. Sungguh sulit dipercaya. Ternyata ucapan Alvin sebelumnya serius dan bukan main-main.

" Siv... Sivia... " Debo mengibaskan tangannya di depan wajah Sivia. Ia mengerutkan dahinya lalu melihat tujuan mata Sivia. Tak disangka, ternyata itu yang membuat Sivia terdiam. Debo pun ikut tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya. Ify bersama Alvin. Apa kata dunia?

" Agni sama cowok itu? Ihh... Kenapa dia deketin Agni sih? " Debo melipat kedua tangannya di dada karena kesal.

" Deb, rangkul gue sekarang. Kita harus pura-pura pacaran di depan mereka. Pokoknya se-mesra mungkin biar mereka percaya kalo kita pacaran. " pinta Sivia pada Debo.

Debo menganga tak percaya. Bagaimana mungkin? Bisa-bisanya Sivia meminta hal seperti itu. Lagian itu harus dilakukan Debo hanya untuk Alvin-Ify? Hmm...

" De, cepet! "

Debo mengangguk lalu dengan cepat ia merangkul Sivia dan merapatkan tubuhnya. Perlahan-lahan, tangannya juga bergerak mengelus-elus pipi Sivia. Entah kenapa Debo juga merasa kesal melihat Alvin-Ify bergandengan tangan.

Sesaat kemudian, Debo melingkarkan tangannya dipinggang Sivia karena Alvin dan Ify menghampiri mereka. Sivia pun merapikan rambut dan posisinya.

" Hey DeVia. " sapa Alvin dan Ify serempak.

" Hey... "

" Lo berdua udah jadian? " tanya Alvin sambil menunjuk tangan Debo yang melingkar di pinggang Sivia.

" Udah dong. Kita berdua udah jadian. Mau bukti? " Debo menaikkan sebelah alisnya. Ia kini memandang Ify. " Lo jadian sama cowok ini, Ag? "

" Ify! Bukan Agni. Iya, gue jadian sama Alvin. " ucap Ify.

" Gue juga jadian sama Debo. " ucap Sivia tak mau kalah.

" Lo bisa buktiin kalo lo sama Sivia udah jadian? " tanya Alvin sedikit tak percaya dengan ucapan Debo-Sivia.

" Tentu. " Debo mendekatkan wajahnya ke Sivia. Lalu dengan cepat ia mencium pipi Sivia dengan lembutnya.

Sivia terdiam sesaat karena perlakuan Debo. Sivia memang meminta Debo untuk terlihat se-mesra mungkin di depan Alvin. Tapi, bukan berarti Debo bisa melakukan seperti itu terhadapnya.

" Udah kan? Mau bukti lagi? " tanya Debo.

" Eng... Enggak deh! Gue duluan ya. " ucap Alvin sambil menarik tangan Ify.

Alvin berjalan perlahan disamping Sivia lalu membisikkan sesuatu. " PENGHIANAT! "

Sivia tercekat lalu menjauh dari Debo. Air matanya perlahan meleleh karena ucapan Alvin. Apa yang sudah dilakukannya? Kenapa Sivia harus melakukan semua ini? Membalaskan dendamnya karena perbuatan Alvin?

Dari kejauhan, Cakka-Shilla, Rio-Agni, Patton-Aren dan Deva-Acha memandang Debo-Sivia dengan tatapan bingung. Mungkin ini semua memang tampak sangat membingungkan.(saya sendiri bingung --')

" Vi, sorry ya. Itu semua biar mereka berdua juga percaya. Dan sekarang aku yakin kalo cewek itu emang bukan Agni. " ucap Debo sambil berusaha menenangkan Sivia.

Sivia menghapus air matanya perlahan. Menangis untuk Alvin? Cukup! Cukup sudah Sivia membuang air matanya hanya untuk Alvin. " Maafin aku juga ya, De. Aku udah bikin masalah kayak gini. Liat tuh, mereka semua di depan pasti juga bingung. Udah yuk. Balik ke kelas. " ajak Sivia.

' Ternyata lo nggak seburuk yang gue duga, Vi. ' batin Debo sambil tersenyum tipis lalu mengikuti langkah Sivia kembali ke kelas.

@ Classroom

" Gue mau pindah tempat duduk! " ucap Sivia pada Alvin.

" Heh... Peraturan sekolah emang kayak gitu. Kalo dari awal udah ditentuin, mana bisa pindah. Oh, lo mau duduk sama Debo? Silahkan! Kalo lo emang niat dihukum sama kepsek. "

" BUKANNYA ELO SEMUA DI SKORS? " teriak Sivia yang membuat anak FMIF lainnya melotot ke arahnya.

" Hahaha... Siapa bilang? Yang di skors cuma KETUA OSIS kebanggaan lo itu. Dia kan ketahuan bawa rokok ke sekolah. " ucap Alvin sinis.

" KAK GABRIEL? "

" WOY, NGGAK USAH TERIAK! " bentak Alvin.

Anak FMIF dan SNG pun bangun dari tempat duduknya lalu melerai pertengkaran yang terjadi diantara Alvin-Sivia.

" Heh... Lo jangan berani ya bentak-bentak pacar gue! " ucap Debo pada Alvin.

" Hah? Pacar? "

" Alvin-Sivia kalian kenapa sih? " tanya Cakka.

Shilla nampak tak memperdulikan keributan yang terjadi. Pandangan Shilla tertuju ke arah pintu. " Casillas... " ucap Shilla tak percaya. Ia pun berlalu dari kelas. Dan nampak tak ada seorang pun yang mengetahui kepergian Shilla dari kelas.

" Kenapa jadi pada tukeran pasangan? " tanya Agni.

" Yee... Siapa yang tukaran? Gue sama Sivia udah putus! Emang ada larangan buat gue? Lagian Ify-Debo juga udah putus. " jelas Alvin pada anak FMIF lainnya.

" Eh, gue kan udah bilang! Nggak ada satu pun anak FMIF yang boleh pacaran sama anak SNG. Emang kalian nggak dengerin apa peraturan yang gue buat? Kalian mau berhianat sama FMIF? " tanya Patton sambil menatap anak FMIF satu-persatu.

" Eh... " Alvin menarik kerah baju Patton dengan kasarnya. " Elo bukan ketua FMIF! Dan nggak akan pernah jadi ketuanya! Ngerti lo! "

" Vin... Udah! Guru udah dateng! " ucap Rio pada Alvin sambil menunjuk Pak Duta yang berjalan memasuki kelas mereka.

Semuanya pun kembali ke tempat duduk. Cakka baru menyadari bahwa Shilla tidak ada di kelas. Perasaannya pun terasa tidak enak dan khawatir dengan keadaan Shilla yang masih depresi kehilangan Casillas.

" Selamat pagi anak-anak. " sapa Pak Duta.

" Pagi Pak... "

" Sekarang siapa yang tahu apa Ibukota Austria? " tanya Pak Duta.

" Saya tau, Pak. Saya tau. " anak FMIF serempak mengangkat tangannya.

" Ehm, ya coba... Alvin. " tunjuk Pak Duta.

Alvin menghela nafasnya sesaat lalu menjawab. " Ibu Kota Austria adalah Wina. (senyum-senyum sendiri. Wkwk) "

" Nah, betul! Tau darimana kamu? " tanya Pak Duta.

" Ya jelas tau. Orang kan Bapak sebelumnya udah pernah jelasin kalo Ibu Kota Austria itu Wina. "

Sementara Pak Duta-Alvin berdebat tentang Ibu Kota Austria, Cakka nampak sibuk mencari sosok Shilla yang tak kunjung kelihatan. Cakka mencolek punggung Rio yang berada di depannya.

" Sst... Yo, lo liat Shilla nggak? " tanya Cakka.

Rio menoleh ke belakang. " Shilla? Bukannya tadi sama elo? "

" Iya, tadi emang sama gue. Tapi, lo liat nggak waktu dia pergi ninggalin gue? Gue khawatir nih dia kenapa-napa. "

" Meneketehek! " ucap Rio sambil menaikkan bahunya.

" AAAAAAAAAAAAAA... "

" Shilla... " anak SNG pun berdiri serempak. Pak Duta dan Alvin menghentikan perdebatannya lalu menoleh.

" Ada apa kalian berdiri? " tanya Pak Duta.

" Shilla, Pak. Itu tadi teriakannya Shilla. " ucap Aren mulai panik.

" Iya, Pak. Shilla kalo teriak berarti dia dalam bahaya. " jelas Acha.

" Kalian ini apa-apaan? Bapak sama sekali tidak mendengar teriakan yang kalian maksud. Kalian jangan membuat alasan macam-macam. Jelas-jelas di papan absen tertulis Ashilla Zahrantiara itu sakit. " ucap Pak Duta sambil melihat papan absen hari ini.

Cakka kaget. Semua ini diluar dugaan. Bagaimana mungkin papan absen itu terisi sendiri? Padahal, jelas-jelas Shilla adalah sekretaris di kelas. Jadi, tidak mungkin dia menulis dirinya sendiri sakit. Semua diluar dugaan.

" Pak, tadi itu Shilla hadir dan nggak sakit. Dan saya juga yakin bahwa teriakan tadi adalah teriakan Shilla. " ucap Cakka berdiri.

" Cakka, kamu jangan membohongi saya! Jelas-jelas Shilla itu tidak sekolah. Sudah... Jangan pada membicarakan Shilla. Kita lanjutkan pelajaran hari ini. Buka buku pelajaran halaman 90. " perintah Pak Duta pada murid-muridnya.

Perasaan khawatir masih singgah dihati Cakka. Ia sangat khawatir dengan kondisi Shilla. Ditambah lagi misteri tertulisnya nama Shilla di papan absen sekolah. Benar-benar sulit dipercaya.

" Jadi, Ibu Kota Austria itu adalah Wina. " jelas Pak Duta.

" UDAH TAU, PAK! " ucap anak-anak serempak.

Tok...tok...tok...

Pintu kelas itu diketuk seseorang. Pak Duta memandang orang itu.

" Ada apa kamu kemari? " tanya Pak Duta.

" Pak, ngomong sama siapa sih? " tanya Alvin kebingungan.

" Api... Illas au ketemu Api. " ucap orang itu.

" Api? Maksud kamu Papi? Emang siapa Papi kamu? " tanya Pak Duta.

" Pak, jangan ngomong sama pintu! " ucap Cakka sedikit berteriak.

Pak Duta pun tersadar dari lamunannya. Ia mengusap wajahnya sesaat. Jelas-jelas tadi Pak Duta memang melihat sosok anak kecil dihadapannya. Namun, semuanya lenyap seketika seiring dengan teriakan Cakka. Ada apa dengan semua ini?

Bersambung...
like+coment yaaa :D
ditunggu...

Berawal Dari MOS--Part 51--Spesial DevAcha

Part 51: Deva sialan!

***

Perasaan itu kembali hadir di hati Deva. Perasaan ketika ia pertama kalinya bertemu cewek seperti Acha. Dan kini, semua itu mungkin hanya tinggal kenangan sesaat. Bahkan, disaat Acha sedang terpuruk dalam kesedihan grup SNG. Deva sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk Acha. Apa yang harus dilakukan Deva? Entahlah! Deva sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk Acha. Disaat seperti ini juga Acha nampak tak peduli pada Deva. Semua hanya karena permasalahan Five Boys dan Five Girls dimasa lalu kini diungkit kembali. Andaikan saja Cakka lebih bisa menjaga ucapannya.

Sulit. Memang sulit untuk menyatukan semuanya kembali dan mengembalikan semua seperti semula. Segala upaya telah dilakukan Deva demi teman-temannya dan juga Acha. Namun, hasilnya juga sia-sia. FMIF dan SNG juga tetap bersikukuh menghentikan hubungan cinta yang terjadi. Terkecuali Deva dan Acha. Mereka berdua nampak memang tidak peduli dengan peraturan yang dibuat Alvin dkk.

“Aku bingung dengan semua ini, Dev. Rasanya semuanya itu sudah berakhir. Hidup udah nggak ada artinya lagi sekarang.” Acha tertunduk lesu. Kini ia sendiri pun ikut bingung dengan semua yang terjadi. Apa yang harus dilakukan Acha? Harus diam dan meratapi nasib hubungannya dengan Deva berakhir? Atau mungkin Acha mesti mengembalikan semua seperti awal? Tidak mungkin! Itu semua memang tidak mungkin dilakukan Acha. Acha memang terlalu lemah untuk melakukan semua itu. Tapi, tidak mungkin juga Acha mesti berdiam diri terus-menerus.

“Keep smile. Hadapi semua masalah dengan senyuman. Kita harus yakin bahwa semua akan baik-baik aja. Aku juga nggak mau semua ini berakhir dengan sia-sia.” Deva menerawang langit yang memang nampak cukup cerah itu. Ia kembali mengingat dimasa-masa pertama kali bertemu dengan anak-anak FMIF dan juga anak SNG. Kenangan masa lalu yang kembali berputar di memori ingatan Deva. Kenangan ketika study tour bersama. Kenangan disaat niat licik Alvin ingin menghancurkan anak Five Girls dilakukan. Kenangan ketika ternyata Deva memang benar-benar mencintai Acha. Dan mungkin kenangan itu kini telah lenyap seiring berjalannya waktu. Deva sendiri tidak bisa melakukan apa-apa.

“Cinta… kata orang ku jatuh cinta. Jatuh cinta sampai tergila-gila. Hanya dirimu yang membuatku mabuk kepayang.” Acha menatap wajah Deva. Perlahan ia mengelus lembut pipi Deva. Acha merindukan saat-saat berdua seperti ini bersama Deva. Benar-benar rindu. Seakan dunia milik mereka berdua. Acha dan Deva nampak tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.

“I will be the last for you. And you will be the last for me.” Deva tersenyum kemudian merangkul Acha. Sungguh! Deva merindukan saat-saat seperti ini. Hari ini akan dicatat Deva sebagai hari bahagia dalam hidupnya bersama Acha. Dan semoga saja hari ini bukan merupakan hari terakhir Deva bersama Acha. Walaupun ada masalah antara FMIF dan SNG. Tapi, bukan berarti hubungan mereka harus berakhir kan?

“Aku sayaaang banget sama kamu, Dev. Kamu itu adalah orang yang bisa buat aku tersenyum. Dan kamu tau, kamu itu beda dari semua cowok yang aku kenal. Kamu itu…”
“Sst...” Deva menempelkan jari telunjuknya di bibir Acha. Baginya, cukup sudah pujian yang dilontarkan Acha. Tak perlu lagi Acha mengucapkan semua kata pujian yang mungkin sudah dirangkainya. Karena semua itu memang tidak dibutuhkan Deva. Yang Deva mau hanyalah kasih sayang dan ketulusan hati Acha.

Acha terdiam. Ia masih menatap Deva. Tangan Deva sudah diturunkannya. Dan kini, Acha hanya diam memandang wajah kekasihnya itu. Ia menelan ludah. Acha berharap bahwa saat ini bukanlah first kiss-nya bersama Deva. Karena jujur, Acha memang tidak bisa melakukan semua itu. Maka dari itu Acha sama sekali tidak pernah mendapatkan first kiss-nya dengan semua mantannya. Apa mungkin Deva yang akan mendapatkan first kiss-nya bersama Acha? Mari kita simak --”

“Jangan, Dev! Aku belum siap untuk semua itu.” Acha memalingkan wajahnya dari Deva. Ia memang belum siap untuk semua ini. Mungkin ini belum saatnya untuk dirasakan Acha. Semua memang butuh persiapan untuk melakukan semua itu. Bagi Acha, semua tidak akan terjadi apabila tidak ada persiapan.

“Cieee... belum siap first kiss ya? Ya udah, aku juga nggak maksain kamu kok, Cha. Kalo emang nggak mau ya aku bisa apa? Aku juga nggak bisa apa-apa.”

Acha memandang Deva sesaat kemudian ia menundukkan kepala. “Maaf.” Hanya kata itu yang dilontarkan Acha. Karena Acha sadar bahwa Deva pasti kecewa dengan semua ini. Tapi, apa mau dibuat? Acha juga tidak mungkin melakukan itu. ACHA BELUM SIAP!

“Buat apa minta maaf? Kamu nggak ada salah kok. Cha, kita ke taman yuk?” ajak Deva.

“Taman?”

“Iya, taman. Aku pengen ngomong sesuatu yang serius sama kamu.”

“Emang nggak bisa disini aja?” Tanya Acha dengan raut muka agak kesal. Deva mendengus.

“Nggak bisa! Disini terlalu rame. Kita ketaman ya?” ajak Deva (lagi).

A c h a mengangguk pasrah lalu mengikuti langkah kaki Deva yang sudah menarik paksa tangannya untuk pergi. Acha hanya berpikir. Untuk apa Deva mengajaknya ke taman? Jangan-jangan Deva ingin first kiss-nya lagi. Tapi, itu tidak mungkin. Deva sudah bilang bahwa dia tidak akan memaksakan semua itu. Entahlah. Hanya bisa menunggu apa yang akan dikatakan Deva di taman.

***

“Aku mau kita putus, Cha.” Ucap Deva ketus. Ya, kini Deva dan Acha sudah berada di taman kota. Dan semua ucapan Deva itu memang diluar dugaan. Dengan gampangnya Deva mengatakan ingin mengakhiri hubungannya dengan Acha. Lantas apa yang ada dipikiran Deva sehingga dia bisa-bisanya melontarkan ucapan itu?. Entahlah…

“Apa? Putus? Tapi, kenapa? Aku punya salah sama kamu sampai kamu putusin aku kayak gini?” tanya Acha. Air matanya perlahan-lahan menetes membasahi pipi. Acha sungguh tidak bisa menerima semua ini. Acha tidak ingin Deva pergi dari hidupnya. Acha sudah terlalu lama mengenal Deva. Jadi, Deva tidak mungkin melakukan semua ini tanpa alasan yang jelas dan pasti.

“Kamu tau Patton kan, Cha? Apapun akan dilakukan dia untuk misahin anak FMIF dari SNG. Dan malah dia sekarang mau nguasain grup FMIF. Aku nggak mau ntar kamu kenapa-napa Cuma karena dia. Aku sayang kamu, Cha. Tapi, ngertiin aku. Aku juga nggak bisa pacaran terlalu lama sama kamu.” Deva tertunduk lesu. Ia sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk menjaga dengan baik hubungannya dengan Acha. Segala cara telah ia coba. Namun, apa hasilnya? Deva tetap kekeuh dengan keputusannya itu. Deva dan Acha harus berakhir. Demi nama baik FMIF dan juga SNG.

“Tapi, kita kan bisa backstreet di depan mereka. Aku nggak mau pisah sama kamu, Dev.” Acha memeluk Deva. Tangisannya pun sudah tidak bisa ditahan lagi. Kini ia puas-puaskan menangis dipelukan Deva. Acha ingin Deva! Hanya itu yang dia inginkan. Acha juga tidak peduli terhadap peraturan FMIF dan SNG.

“Aku juga nggak mau sebenernya pisah dari kamu. Tapi, aku juga nggak mungkin ninggalin persahabatan hanya demi seorang cewek. Tolong ngertiin aku! Aku juga bingung dalam situasi seperti ini, Cha.”

Acha masih terisak dipelukan Deva. Ia tak peduli dengan semua ucapan yang dilontarkan Deva. Yang ia mau hanyalah Deva tidak akan pernah pergi dari sisinya. Karena sungguh Acha tak bisa jauh-jauh dari Deva.

“Cha… sorry. Emangnya enak dikerjain! Hahaha.” Deva melepaskan pelukan Acha dan kini ia tertawa sepuasnya melihat ekspresi Acha yang terlihat sangat berlebihan.

“Ihhh… Deva sialan! Jadi, kamu Cuma ngerjain aku doing? Kamu pikir enak buang-buang air mata kayak gini? Jahat!” Acha menghapus air matanya lalu memanyunkan bibirnya beberapa cm. perasaannya sungguh sangat kesal pada Deva. Bisa-bisanya Deva seperti ini pada Acha. Jahat sekali!

“Maaf, Cha. Jangan ngambek dong. Aku kan cuma bercanda. Kalo disuruh milih FMIF atau kamu, aku pasti bakalan pilih kamu.” Ucap Deva sambil tersenyum.

“Yang bener?”

“Bener.”

“Yakin?”

“Sumpah!”

“Serius?

“Seratusrius deh.”

“Nggak bohong kan?”

“ACHAAAA!! Aku serius.” Ucap Deva kesal.

“Yee… ngambek.”

”Yuk, pulang.” ajak Deva.

”Pulang? Katanya mau ke taman.” Acha mendengus kesal. Apa sih maunya Deva? Segalanya telah dituruti Acha. Memang benar-benar sulit untuk ditebak.

”Besok kan kita sekolah. Sekarang kita pulang. Lagian aku capek banget, Cha. Emangnya kamu nggak capek jalan-jalan nggak jelas kayak gini? Ayolaahh...”

”Ya udah deh.” Acha mengangguk pasrah. Dan kemudian mengikuti langkah kaki Deva didepannya.

Bersambung...
Like+coment yaa :D
maaf ngaret... Abisnya bingung cara mindahin m.word 2007 ke 2003. Tp untung bisa. Hehe. Maaf yaa..

Minggu, 05 Juni 2011

Berawal Dari MOS--Part 50

Part 50: Semua pergi dan kembali

***

Debo berjalan-jalan di sekitar Jalan Sulatri. Ia sendiri bingung harus kemana lagi. Pikirannya juga telah kacau akibat amnesia yang menimpanya kali ini. Baru kali ini Debo sangat bingung dengan jalan yang ditujunya. Entah kemana lagi dia harus menemukan jalan untuk pulang ke rumahnya. Bahkan, Debo pun tak tahu dia tinggal dimana dan bersama siapa. Bundanya pun tidak diingatnya apalagi Ayahnya yang bekerja di Jambi.

“ Yaampun… Aku harus kemana lagi? Aku sama sekali nggak inget siapa Ayah dan Bundaku. Bahkan, aku nggak inget di mana rumahku. Tuhan, bantu hambamu ini untuk menemukan jalan pulan ke rumah. ”

Debo menghentikan langkahnya. Ia sudah capek hanya berjalan-jalan tanpa tahu arah dan tujuan yang jelas. Bahkan, disaat kondisinya seperti ini pun anak FMIF tidak peduli terhadap dirinya. Sungguh tragis nasib yang dialami Debo. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Nafasnya terengah-engah dan tak karuan. Dadanya terasa sesak untuk bernafas. Pikirannya pun kacau. Ia ingin pulang. Pulang kembali  ke rumah. Namun, itu tidak bisa dilakukan Debo. Dia sama sekali tidak mengingat apa-apa dipikirannya. Yang di ingat hanyalah nama Agni.

“ Tuhan… Aku harus ngapain sekarang? Apa aku baliik lagi ke Gita? Tapi, aku nggak mungkin ngerepotin dia lagi. Eeerrrrggghhh… ” Debo berbicara sambil memegangi kepalanya. Sulit untuknya mengingat semuanya dari awal. Bahkan, dia tidak ingat sama sekali tentang adegan percobaan bunuh diri yang dilakukan.

“ Lho, Debo… ”

Debo melihat sosok seseorang yang berada dihadapannya itu. “ Kamu siapa? Siapa itu Debo? Namaku Andryos bukannya Debo. ”

“ Gue Dimas. Musuh terberat lo dalam memperebutkan Ify dulu. Elo udah lupa sama gue? Apa lo pura-pura amnesia? Cara lo basi! Lo kan Debo bukannya Andryos. ”

“ Aku bukan Debo!! Aku Andryos! Aku nggak tahu apa-apa soal kamu dan juga cewek yang bernama Ify. Jadi, tolong jangan ganggu aku. Aku sendiri aja nggak tau siapa Bunda dan Ayahku. Aku nggak inget semuanya. Aku Cuma inget Agni. Cuma dia yang aku inget satu-satunya. Nggak ada yang lain. ”

Dimas terdiam sesaat. Ia menerawang langit yang saat itu sedang cerah. Ia tersenyum lebar dengan ide cemerlang diotaknya. Ia Nampak berpikir sejenak lalu kembali menatap Debo yang berada dihadapannya.

“ Yaampun… Debo. Gue ini kakak elo. Kakak kandung lo, De. Lo lupa sama gue? Tega banget lo ngelupain gue. Dirumah sepi banget tau. Selama ini gue, Bunda dan Ayah pusing nyariin elo kemana-mana. Lo ikut gue pulang ya. Ayah sama Bunda pasti kangen banget sama lo. ” Dimas tersenyum tipis pada Debo. Dalam hatinya ia bangga karena telah berhasil melakukan rencana bagus yang ada diotaknya.

“ Kakak? Kamu kakak aku? Kak Dimas? Tapi, seingetku aku nggak punya kakak. Aku ini anak tunggal satu-satunya. Kalo sepupu mungkin aku punya. ”

Dimas menepuk jidatnya. Dia baru tahu bahwa Debo adalah anak tunggal. Berarti rencana yang akan direncanakannya gagal total. Ia kembali berpikir lalu teringat sesuatu.

“ Ah, masa elo lupa sama gue? Lo itu adik gue. Jahat banget lo sama kakak sendiri. Siapa bilang elo anak tunggal, De? Lo itu adik gue tau. ” Dimas mengacak-acak rambut Debo yang agak gondrong. Senyumnya lebar menghiasi bibirnya.

Debo mengeryitkan dahinya. Ia bingung dengan semua ini. Karena ia sadar bahwa dirinya adalah anak tunggal. Dan sekarang, Dimas datang dan mengaku-ngaku sebagai kakak kandung Debo. Semua ini semakin mempersulit keadaan Debo.

“ De, ayo kita pulang. Emangnya elo mau diem dijalan Cuma karena penyakit amnesia yang lo alami? ”

“ Kakak… jadi, kakak ini kakak kandungku? ” Tanya Debo memastikan.

‘ Ish, ini anak lama-lama bikin kesel. Akuin aja dong kalo gue emang kakak elo. Dengan itu gue bisa dengan mudah menjalankan rencana gue dengan mulusnya. ’ batin Dimas sambil tersenyum penuh kemenangan.

“ Kak… ”

“ Hah? Iya? Kenapa, De? ”

“ Kakak ini kakak kandungku? ” Tanya Debo lagi.

“ Iya, De. Kamu nggak percaya nih sama kakak? Emang nggak ada kemiripan apa? Gue sama elo itu mirip! Gue ya kakak elo, De. ” jelas Dimas.

“ Kak Dimas, terus namaku sebenernya siapa? Namaku kan Andryos Aryanto, kak. Tapi, kok banyak banget sih orang manggil aku dengan sebutan Debo? ”

“ Soalnya Bunda suka manggil kamu dengan sebutan Debo. Jadi, biasanya kamu dipanggil Debo bukannya Andryos. ” Dimas memaksakan senyumnya.

“ Oh… terus aku punya pacar nggak? Aku juga kelas berapa dan sekolah dimana, kak? ” Tanya Debo.

“ Ya, Agni itu pacar kamu. Terus kamu kelas 10 di SMA IDOLA BERSINAR. ” jelas Dimas.

“ Oh… Makasih ya kakak. Ayo, kita pulang sekarang. ” ajak Debo pada Dimas.

“ Yuk, De. ”

Dimas pun pulang bersama Debo. Ia merasa bangga karena rencananya telah berhasil dilaksanakan. Dan lebih ia tak percaya adalah Debo mempercayai Dimas sebagai kakak kandungnya. Padahal, dari sisi wajah sama sekali tidak ada kemiripan diantara Debo dan Dimas. Mereka memang ada kemiripan yaitu sama-sama hitam manis.

***

“ Vi… ” Alvin menahan langkah kaki Sivia. Sivia menghentikan langkahnya. Karena memang Alvin sebelumnya menawarkan untuk mengantar Sivia pulang. Namun, Sivia memang masih dibilang ogah-ogahan untuk pulang bersama Alvin. Alvin yang jelas-jelas kini adalah mantan kekasih seorang Sivia Putri Azizah.

‘ Sialan nih cowok. Maunya apa sih dari gue? Belum puas kali ya dia ngehancurin masa depan gue? Dan sekarang malah ngalangin jalan gue. Cowok brengsek!! ’ batin Sivia kesal.

“ Vi, dengerin gue. Omongan yang dibilang Shilla itu semuanya nggak bener! Gue sama sekali nggak ada niat buat balas dendam sama anak-anak Five Girls dulu. Oya, Vi, lo sadar nggak kedatangan Patton dan Aren bikin mempersulit kita semua? ” Alvin memulai topic pembicaraan.

“ Lo pikir gue peduli? Elo udah terlanjur bikin hati gue sakit. Dan gue nggak mau tambah sakit lagi karena elo. Ternyata, kak Gabriel jauh lebih baik daripada elo. Elo bahkan tega-teganya selingkuh sama Shilla di depan gue. Mau lo itu apa sih, Vin? Belum puas lo sama semua yang udah lo lakuin ke gue? Belum puas lo? ” Sivia Nampak emosi menghadapi Alvin. “ Semoga saja kamu dapatin hati yang tulus mencintaimu. Tapi bukan gue, Vin. Cewek itu SHILLA! Bukan gue. ”

“ Maksud lo apa sih, Vi? Apa hubungan semua ini sama Shilla? Plis, gue nggak ada hubungan apa-apa sama Shilla. Bahkan, gue sama sekali nggak ada rasa sama Shilla, Vi. ”

“ BOHONG!! Omongan lo palsu semua. Gue tau kalo lo itu suka sama Shilla. Jangan bohongin perasaan elo sendiri deh. Dasar!! Lo awalnya emang niat buat deketin Shilla kan? Terus, kenapa sasaran korbannya jadi gue? Emang gue ada bermasalah gitu sama elo sampai-sampai elo giniin gue? Dan elo udah ngerebut semuanya. Bahkan, gue juga nggak akan bisa pergi jauh dari elo. Karena lo bakalan ngeliat sendiri bayi yang bakal nanti gue lahirin. Puas kan lo, Vin?! LO NGEHANCURIN MASA DEPAN GUE! ”

Alvin mendekap erat tubuh Sivia. Ia tidak ingin keributan ini semakin berkepanjangan. Yang dia mau hanyalah Sivia kembali dalam pelukannya. Alvin memang bodoh karena sebelumnya ia menyuruh Shilla untuk ke café. Entah apa yang akan dibicarakan Alvin pada Shilla. Kini perasaan Alvin pun bingung. Sivia atau Shilla? Entahlah! Alvin semakin bingung dengan perasaannya. Disatu sisi, ia harus bertanggung jawab atas Sivia. Disisi lain, perasaannya kembali tumbuh pada Shilla. Apa yang harus dilakukan Alvin? Haruskah ia mengorbankan perasaannya hanya demi nafsu sesaat?

“ LEPASIN GUE! ” Sivia memberontak dalam pelukan Alvin.

“ Gue nggak akan ngelepasin elo! Gue sayang dan gue cinta sama elo, Vi. Jangan tinggalin gue. ” Alvin membelai lembut rambut Sivia. Perasaannya semakin bingung dan tak karuan. Sivia sudah terlalu lama masuk merasuki hati Alvin. Namun, Shilla juga kembali hadir disaat Alvin berusaha melupakan cinta lamanya itu. Semua kacau! Perasaan Alvin sangat kacau. Ia memang tidak ingin kehilangan gadis yang dicintainya. Alvin tidak mau kehilangan Sivia maupun Shilla.

“ Mau lo apa sih? Gue nggak bisa diginiin. Lo kalo emang cinta sama Shilla. Lo kejar Shilla sebelum terlambat! Sebelum lo akhirnya nyesel karena Shilla jadi milik orang lain. Nggak usah peduliin gue. Gue bisa jaga diri gue sendiri dan tanpa elo. Shilla lebih ngebutuhin lo dibanding dengan gue. Gue ini nggak ada apa-apanya di mata lo. Shilla lebih segalanya dibandingkan dengan gue. Shilla itu cewek perfect. Dia tinggi, putih, cantik dan hampir mendekati sempurna. Nggak kayak gue. Gue kan… ”

Alvin menempelkan jari telunjuknya di bibir Sivia. “ Sst… manusia itu punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Elo itu cantik tau. Emang siapa oranng yang bilang Sivia Putri Azizah itu jelek? Sini biar gue abisin tuh orang. Shilla emang cantik. Cantik banget bagaikan bidadari. Tapi, dihati gue tetep cantikan elo daripada Shilla. Memang gue suka sama Shilla. Tapi, itu dulu. Dulu sebelum elo datang masuk ke dalam hati gue. Dan elo udah berhasil ngerubah gue 100 %. Thank’s for all, Vi. ” Alvin mengecup lembut kening Sivia. Kini, ia menemukan kembali perasaannya yang gundah. Ternyata, terlihat jelas bahwa Sivialah sosok gadis yang selama ini dicintai seorang Alvin Jonathan Sindunata.

“ Nggak! Lo salah orang. Cewek yang elo cari itu Shilla bukan gue. Bahkan, gue nggak pernah cinta sama elo. Dari awal emang gue nggak mau kenal sama cowok kayak lo. Tapi, semua ini kemauan anak-anak Five Girls dulu. Dulu sebelum lo hampir aja memperkosa Shilla di depan Rio. Dan makanya gue dating ngejar elo saat itu di hotel. Dan elo… lo ngehancurin semuanya!! ” Isak tangis Sivia mulai terdengar. Sivia kini menangis hanya karena cowok seperti Alvin.

Alvin kembali mendekap erat tubuh Sivia. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Sivia saat ini. Sivia membutuhkan Alvin. Hanya Alvin satu-satunya orang yang bisa membuat Sivia tenang. Tenang dalam pelukan hangat Alvin.

“ Kejar Shilla, Vin! Kejar Shilla. Jangan biarin Cakka kembali mendapatkan hati Shilla. Pokoknya elo kejar Shilla dan lo ganti nama Casillas jadi Ara. Alvin-Zahrantiara. Buruan kejar Shilla! Dia lebih berarti buat lo dibandingkan sama gue. Gue… gue Cuma masa lalu yang seharusnya dibuang dan dicampakkan. Bukannya selalu dilindungi. ”

“ Emangnya lo yakin bisa kayak gitu? Sok kuat banget! ” sinis Alvin sambil membelai lembut rambut panjang Sivia.

“ Lo ngeremehin gue? Lo liat aja kalo gue bisa berdiri kuat tanpa lo sedikitpun. Mau elo sama Shilla, Ify, Acha, Agni atau Aren. Gue nggak peduli! ” ucap Sivia lalu membalas pelukan Alvin.

“ Masa sih lo bisa ngeliat gue sama cewek lain? Berarti… gue  boleh dong cium Shilla? ”

“ Hah? Cium Shilla? ”

“ Iya, cium Shilla. Kenapa? Takut ya! Itu artinya kamu itu nggak rela aku sama cewek lain kan? Makanya nggak usah sok kuat kayak gitu. ” Alvin terkekeh.

“ Kata siapa gue nggak rela? Terserah lo! Mau lo ciuman sama Shilla kek. Atau lo cium monyet sekalian. GUE NGGAK PEDULI! ” Sivia melepaskan pelukannya ke Alvin. “ Makasih atas semuanya. Mendingan sekarang lo kejar Shilla deh. Daripada entah dia diambil lagi sama Cakka. ”

“ Kalo gue ngejarnya Ify, gimana? Apa lo tetep ngerelain gue? ”

“ Ify? GUE NGGAK MAU LO SAMA DIA! Kalo sama Shilla sih gue fine-fine aja. ” jawab Sivia sinis.

“ Asiikkk… gue kejar Ify ah! Mumpung Debo juga lagi amnesia. Jadi, besar kesempatan gue buat ngedeketin Ify. Byebye Sivia cantik.. ”

Cuuupppp 8.8

Alvin mencium pipi Sivia kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Sivia dengan perasaan riang gembira. Sivia mendengus sebal pada Alvin. Ify? SAY NO DEH! Batin Sivia.

“ Lo pikir cuma lo doang yang bisa kayak gitu. Lo bisa ngejar Ify, gue juga bisa deketin Debo. Tunggu pembalasan gue! ” Sivia tersenyum puas lalu pergi dan berusaha mencari sosok Debo.

***

“ STOP! Gue nggak mau denger penjelasan lo lagi. Lo mau ngambil Casillas? Ambil aja! Gue nggak peduli lagi sama Casillas. ” Shilla terus berusaha menjauh dari Cakka. Jujur, ia sudah capek terus-terusan seperti ini. Pertama, Riko sempat hadir dalam kehidupannya. Kedua, Alvin juga kembali hadir disaat Cakka-Shilla renggang. Ketiga, Shilla bingung dengan semua ini dan ditambah lagi Casillas yang semakin mempersulit keadaan.

“ Ami ama Api jahat!! Illas au ulang! Illas benci Ami ama Api. Illas benci! ” Casillas tanpa disengaja mendengar ucapan Cakka dan Shilla. Air matanya kini jatuh. Perasaannya tak karuan. Ia sangat-sangat membenci Cakka dan Shilla yang bisa-bisanya seperti itu terhadap anak kecil. Mereka tidak bisa memikirkan sama sekali perasaan anak kecil seperti Casillas. Sungguh terlalu…

“ Illas, maksud Mami bukan gitu. Tadi itu… ”

“ ILLAS BENCI!! ” Casillas berlari meninggalkan Cakka dan Shilla. Air matanya tak henti-hentinya jatuh membasahi pipi.

“ Kka, kejar Casillas! ”

“ Katanya nggak peduli! Lo liat sendiri kan. Dia daritadi itu ngebuntutin kita berdua tau. Dia itu nggak suka… ”

BRRAAAKKK—

Suara tabrakan hebat terdengar di sekitar jalan Tukad Balian. Shilla merasa perasaannya tak enak terhadap Casillas. Apa ini akhir dari segalanya? Ini yang harus dirasakan Shilla? Kehilangan cinta dan juga kehilangan sosok Casillas?

“ Illas… kka, Casillas! ” Shilla panic lalu mengguncangkan tubuh Cakka yang sedaritadi diam membisu.

“ Woy, anak kecil kecelakaan. Dia meninggal ditempat. Ayo kita tolongin. ” orang-orang mulai berdatangan melihat lebih jelas kejadian kasus tabrakan itu. Shilla tersentak kaget dan air matanya meleleh seketika. Casillas? Mungkinkah?

“ Shill, kita liat kesana… ” Cakka tanpa basa-basi lagi menarik tangan Shilla untuk melihat lebih jelas siapa anak kecil yang menjadi korban tabrak lari sebuah mobil berkecepatan tinggi. Ia hanya berharap semoga itu bukan Casillas Casillosta.

Cakka menyerobot kerumunan orang-orang yang mengerumuni jenazah anak kecil itu. Orang-orang semakin banyak saja yang datang melihat lebih jelas kejadian kecelakaan tragis yang merenggut nyawa seorang anak kecil.

“ Casillas… ” Shilla berlutut didekat tubuh anak kecil yang kini sudah tak bernyawa. Bagaikan badai menerpa, semuanya hilang dengan begitu cepat. Casillas. Memang ternyata Casillas yang menjadi korban tabrak lari. Cakka pun ikut berlutut mengelus lembut rambut Casillas.

“ Illas, bangun sayang. Mami sayang sama kamu. Ini Papi kamu juga ada disini lho. Kenapa kamu tidur terus? Apa kamu udah nggak sayang lagi sama Ami sama Api? ” Shilla depresi berat. Airmatanya terus-terusan jatuh melihat kondisi Casillas yang mengenaskan dan sudah tak bernyawa. Andaikan saja Shilla tidak berbicara seperti itu. Pasti semua ini tak akan terjadi. Tapi, apa yang terjadi? Menyesal! Penyesalan selalu datang belakangan. Nasi kini telah menjadi bubur. Dan tidak akan ada lagi panggilan Ami-Api diantara Cakka-Shilla. Semua itu kini hanya tinggal kenangan…

“ Shill… sabar. Semua ini takdir Tuhan. Dan ini merupakan peringatan buat kita. Lo harus ngerelain kepergian Casillas. Yang jelas selama ini kita udah jadi orang tua yang terbaik buat dia. ” Cakka membelai lembut rambut Shilla. Air matanya pun meleleh membasahi pipi. Cakka merasa tidak tega melihat kondisi Shilla yang seperti orang gila hanya karena kehilangan Casillas. Bila diberi kesempatan kedua, tak akan diabaikan lagi sosok Casillas bagi Shilla. Casillas yang selama ini selalu berusaha mempersatukan Cakka-Shilla. Dan kini, semua kenangan itu pergi begitu saja…

“ Ayo, Shill. Jangan kayak gini. Orang-orang ngeliatin kita. Kita istirahatkan Casillas dengan tenang. ” Cakka kembali mengelus punggung Shilla. Kerumunan orang semakin banyak saja yang datang melihat lebih jelas kecelakaan itu. Pemilik mobil yang menabrak Casillas keluar. Cakka tersentak kaget melihat orang yang menabrak Casillas.

“ Oh, jadi elo yang udah bikin Casillas meninggal? Lo harus tanggung jawab atas semua ini! ” bentak Cakka.

“ Cakka? Aduh, maafin aku, Kka. Aku nggak liat tadi ada anak kecil nyebrang. ” ucap pengendara mobil itu.

“ Lo udah bunuh Casillas! LO HARUS MATI! ” Shilla bangkit lalu mencekik keras leher orang itu. Orang itu merintih kesakitan. Cakka pun panic.

“ Uhukk… eekkk… Cak… kka… ” orang itu semakin merintih. Nafasnya terasa sesak. Cakka tanpa sadar mendorong paksa Shilla menjauh dari pengendara mobil itu.

“ JANGAN SAKITIN OIK! ” bentak Cakka pada Shilla.

“ Cakka… ” air mata Shilla kembali tumpah ketika Cakka membentaknya. Cakka menenangkan orang yang bernama Oik itu. Shilla mencibir lalu tersenyum kecut.

“ Ik, maafin Shilla ya. Dia depresi karena baru aja kehilangan Casillas. ”

“ Hmm… ya! Maafin gue ya. Sumpah, gue nggak maksud buat celakaan anak kecil itu. Gue nggak liat dia nyebrang tadi. Jadi serba salah gue disini. ” Oik menunduk lesu. Ia melirik jasad Casillas yang penuh darah dan sudah tak bernyawa itu. “ Dia adik lo, Kka? ”

“ Dia anak gue tau! Anak gue sama Cakka. ” ucap Shilla sinis.

“ Hah? Lo berdua… ”

“ Anak angkat, Ik. Don’t negative thinking. ”

“ Udah, sekarang kita makamin anak ini. ” ucap Oik.

“ JANGAN ADA YANG SENTUH CASILLAS! NGGAK BOLEH ADA SEORANG PUN YANG NYENTUH CASILLAS! ” Shilla berteriak histeris lalu kemudian…

‘brruuukk’

Shilla ambruk dan kemudian tak sadarkan diri. Pikiran Shilla benar-benar kacau dan ia merasa stress akibat kehilangan sosok Casillas dalam hidupnya.

***

@ Taman Kota

“ Maaf, Yo. Aku nggak bisa kembali lagi. Hati ini udah tertutup untuk cowok kayak kamu. Aku udah nggak tahan terus-terusan diginiin sama kamu, Yo. Maaf kalo aku emang nggak bisa jadi cewek yang terbaik buat kamu. Mungkin diluar sana masih ada cewek yang bisa jadi yang terbaik untukmu. Tapi bukan aku! ” Agni melepaskan genggaman tangan Rio. Ia kini menunduk pasrah dengan semua ucapan yang akan dilontarkan Rio. Bahkan, Agni siap menerima caci dan maki dari Rio. Karena baginya ia memang pantas mendapatkan itu semua dari Rio.

Rio menatap Agni kemudian ia mendekap erat tubuh Agni. Rio membelai lembut rambut Agni. Ia tak ingin gadis itu pergi jauh dari hidupnya. Rio Nampak teringat sesuatu.

“ Maaf atas kejadian lalu. Maaf atas perlakuan yang sebelumnya aku lakuin ke kamu. Maaf kalo aku sempet ngehancurin kebahagiaan kamu sama Debo. Maaf kalo aku udah ngehancurin hubungan kamu sama Debo waktu study tour. Maafin aku, Ag. Maaf… ”

“ Apa?! Jadi, kamu emang sengaja ingin ngehancurin hubunganku sama Debo? Tapi, kenapa? Kamu kan tau aku itu sayang banget sama Debo. Kamu malah ngehancurin semuanya!! ” Agni merasa kesal dengan semua ucapan Rio.

“ Hey… hey, Ag! Aku sama sekali nggak ada niat buat ngehancurin kamu sama Debo. Tapi, hati aku maksa banget buat kamu sama hancur berantakan. Karena kalo terlambat mungkin aku akan menyesal karena kebodohanku sendiri. Maafin aku, Ag. ”

Agni mendorong Rio perlahan. Dalam hatinya ia merasa sangat kesal dengan semua ucapan yang dilontarkan Rio. Ternyata cara Rio mendapatkan Agni selama ini LICIK! Rio tega-teganya menghancurkan kebahagiaan Debo—Agni hanya demi perasaannya sesaat. Rio sama sekali tidak memikirkan akibat yang terjadi. Mungkin saja Rio bisa dibenci selama-lamanya sama Agni. Atau mungkin lebih parah dari itu. Rio…

“ TEGA! ” bentak Agni.

“ Tega? Hey, aku nggak ada berpikiran seperti itu, Ag! Please forgive me. ” Rio memegang lembut pipi Agni. Agni menatap Rio tajam kemudian menepis kasar tangannya.

“ Forgive you? In your dream! I hate you, Mario! ” Agni berlari jauh meninggalkan Rio dengan air mata yang menumpuk dalam kantong matanya. Air matanya pun mengalir. Tangisannya pecah. Sungguh kata-kata itu terlontar seketika dari mulut Agni. Agni membenci Rio? Entahlah!


BERSAMBUNG. . .

=O. oooo… GAWAT DIMAS MEMPERALAT DEBO! COME ON HANCURKAN DIMAS(?)
=O. gaswaatttt… ALVIA BERANTEM? BAKALAN JADI ALFY DEVIA NIH..
=O. OMEGOSHHH… CASILLAS MENINGGAL? :”( hikss… OIK JAHAT YEE!
=O. RIONIIII…. SINTING!